Isnin, 19 September 2011

Kisah Abu Bashir Dan Abu Jandal R.Anhuma Yang Membebaskan Diri Dari Perjanjian Hudaibiyah.

"Barangsiapa dari golongan Quraisy menyeberang kepada Nabi SAW tanpa seizin walinya, harus dikembalikan kepada mereka. Dan barangsiapa dari pengikut Rasulullah yang menyeberang kepada Quraisy, tidak akan dikembalikan kepada Muhammad".

Tanggapan Rasulullah SAW dalam hal ini, apabila ada orang yang murtad dari Islam dan minta perlindungan Quraisy, maka orang semacam ini tidak perlu lagi kembali kepada jamaah Muslimin. Dan siapa-siapa yang masuk Islam dan berusaha menggabungkan diri dengan kaum Muslimin, mudah-mudahan Allah akan membukakan jalan keluar..


Berkenaan isi perjanjian di atas terdapat sebuah kisah yang sangat menarik. Kisah ini adalah berkenaan Abu Jandal r.a, dia adalah seorang pemeluk Islam yang saat itu sedang ditawan oleh kaum Quraisy. Sahabat ini banyak mengalami penyiksaan dan penderitaan kerana keIslamannya.

Ketika dia mendengar Nabi saw. sedang berkhemah di Hudaibiyah, dia segera melarikan diri menuju tenda Nabi saw. dengan harapan apabila bergabung dengan kaum muslimin ia dapat ter-hindar dari musibah yang dialaminya. Ayah Abu Jandal r.a. iaitu Suhail yang pada waktu itu belum memeluk Islam (memeluk Islam pada waktu futuh Makkah) adalah wakil pihak Quraisy untuk berunding dengan Nabi saw. ketika perjanjian Hudaibiyah akan ditandatangani, ia telah menampar Abu Jandal r.a. dan memaksanya kembali ke Makkah. Oleh kerana perjanjian Hudaibiyah itu belum ditandatangani yakni sedang ditulis, maka Nabi saw. menyatakan bahawa larinya Abu Jandal r.a. ke pihak kaum muslimin belumlah terikat di bawah perjanjian itu.

Nabi saw. berkata kepada Suhail, “Engkau tidak boleh memaksanya kembali ke Makkah dan saya berharap agar ia dikembalikan kepadaku”.

Tetapi ayah Abu Jandal menolak alasan-alasan Rasulullah saw. tersebut. Penderitaan Abu Jandal r.a. ini sangat menyakiti perasaan para sahabat. Tetapi apa daya, karena menginginkan perdamaian, Nabi saw. terpaksa menyerahkannya kembali kepada pihak Quraisy sambil menghiburnya dengan kata-kata sebagai berikut: “Janganlah engkau bersedih, wahai Abu Jandal, insya Allah, Allah akan membuka jalan bagimu.”

Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah itu juga membuktikan kebenaran pendapat Rasulullah lebih cepat dari yang diduga sahabat-sahabatnya. Abu Bashir Utbah bin Usaid datang dari Makkah ke Madinah sebagai seorang Muslim. Sebelumnya dia dipenjarakan oleh Quraisy di Makkah, kemudian melarikan diri menyusul Nabi ke Madinah.

Sesuai dengan isi perjanjian, Abu Bashir mesti dikembalikan kepada Quraisy, sebab ia pergi tanpa seizin tuannya. Untuk itu maka Azhar bin Auf dan Akhnas bin Syariq mengirim surat kepada Nabi SAW supaya ia dikembalikan. Surat-surat itu dibawa  oleh seorang laki-laki dari Bani Amir yang datang bersama seorang budak.

"Abu Bashir," kata Nabi, "Kita telah membuat perjanjian dengan pihak mereka, seperti sudah kau ketahui. Suatu pengkhianatan menurut agama kita tidak dibenarkan.  Semoga Allah membuat engkau dan orang-orang Islam yang ditindas bersamamu merupakan suatu kelapangan dan jalan keluar. Berangkatlah engkau kembali ke dalam lingkungan masyarakatmu."

"Wahai Rasulullah, saya akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik yang akan menyiksa saya karena agama saya ini," kata Abu Bashir.

Nabi SAW kemudian mengulangi kata-kata tadi. Dan kedua orang itu pun berangkat. Sesampai di Dzul Hulaifa, Abu Bashir meminta kawan seperjalanannya dari Bani Amir agar memperlihatkan pedangnya.

Abu Bashir r.a. berkata, “Hai kawan, alangkah bagusnya pedangmu itu.”
Mendengar pedangnya dipuji sedemikian rupa, orang itu merasa bangga lalu mengeluarkan pedang tersebut sambil berkata, “Engkau benar, pedang ini memang bagus dan saya telah mencubanya untuk membunuh beberapa orang.” Sambil berkata demikian dia menyerahkan pedangnya kepada Abu Bashir r.a..

Setelah menggenggamnya erat-erat, Abu Bashir mengayungkan pedang itu tubuh si lelaki Bani Amir hingga tewas. Sang budak yang melihat kejadian tersebut, lari ke jurusan Madinah dan langsung menemui Nabi.

"Orang ini tampaknya dalam ketakutan," kata Rasulullah setelah melihat orang itu. Lalu beliau bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi?"

"Teman tuan membunuh teman saya," jawabnya.

Tidak lama kemudian Abu Bashir muncul dengan membawa pedang terhunus dan berkata kepada Rasulullah. Dia berkata kepada Nabi saw., “Wahai Rasulullah, engkau telah menyerahkan saya untuk menunaikan perjanjian engkau dengan pihak kafir Quraisy. Tetapi saya tidak terikat sedikit pun dengan perjanjian tersebut, karena saya khuatir mereka akan merusak iman saya, maka saya telah melepaskan diri dari mereka.”
Sebenarnya Rasulullah tidak dapat menyembunyikan kekagumannya dan harapannya pada Abu Bashir. Nabi saw. berkata, “Sekalipun saya merasa senang dapat menolongmu, tetapi secara tidak sadar engkau sedang menyalakan api peperangan.”
Sesudah itu Abu Bashir berangkat juga. Ia berhenti di Al-Ish, di pantai sepanjang jalur  Quraisy ke Syam
Dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah dan Quraisy menetapkan jalan ini sebagai lalu lintas perdagangan, yang tidak boleh diganggu oleh kedua belah pihak. Namun setelah Abu Bashir pergi ke daerah itu, dan hal ini didengar oleh kaum Muslimin yang tinggal di Makkah serta tentang kekaguman Rasul kepadanya, sebanyak 70 orang laki-laki dari mereka menggabungkan diri dengan Abu Bashir di tempat tersebut. Ia kemudian dijadikan pemimpin oleh mereka.

Oleh kerana mereka tidak tertakluk dengan perjanjian Hudaibiyah, maka mereka selalu mengganggu dan menyerang kafilah-kafilah dagang Quraisy yang melalui tempat persembunyian mereka sebagaimana yang pernah dilakukan oleh golongan Quraisy terhadap kaum Muslimin ketika dalam perjalan berhijarah sebelumnya. Kini Abu Bashir dan rakan-rakannya pula menyekat Quraisy dalam perjalanan. Setiap orang yang berhasil mereka tangkap, mereka bunuh dan setiap ada kafilah dagang yang lewat tentu mereka rampas. Ketika itulah Quraisy menyadari bahwa hal ini merupakan suatu kerugian besar bagi mereka apabila kaum Muslimin masih tetap tinggal di Makkah.

Bagi Quraiys, usaha mengurung orang yang benar-benar teguh imannya, lebih  berbahaya daripada membebaskannya. Tentu mereka akan mencari kesempatan untuk lari, dan akan melancarkan  perang yang tak berkesudahan terhadap mereka yang mengurungnya. Dan Quraiys juga yang akan rugi. Quraisy teringat ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah, beliau mencegat perjalanan kafilah mereka. Perbuatan semacam  itu mereka khawatirkan akan diulangi oleh Abu Bashir.

Sehubungan dengan inilah mereka lalu mengutus orang kepada Nabi SAW, meminta beliau agar menampung kaum Muslimin Makkah, serta membiarkan lalu lintas kembali aman. Dengan demikian Quraisy telah mundur selangkah dari apa yang secara gigih disyaratkan oleh Suhail bin Amr—bahwa Muslimin Quraisy yang pergi menyeberang kepada Rasulullah tanpa seizin walinya harus dikembalikan ke Makkah. Dengan sendirinya salah satu syarat perjanjian itu jadi gugur. Syarat yang dulu pernah membuat Umar bin Al-Khathab gusar kerananya, dan telah menyebabkannya marah-marah pada Abu Bakar.

Demikian hebatnya gangguan mereka, sehingga pihak Quraisy tepaksa menemui Nabi saw. untuk memujuk baginda SAW agar menghentikan gangguan-gangguan mereka itu dan menarik kembali rombongan mereka ke Madinah. Dengan demikian perjalanan kafilah-kafilah Quraisy akan lancar kembali seperti sediakala. Kemudian Rasulullah saw. mengirim surat dan mengizinkan mereka kembali. Diceritakan bahawa ketika menerima surat dari Nabi saw. tersebut Abu Bashir sedang mengalami sakaratul maut, Abu Bashir r.a. kemudian wafat sambil memegang surat dari Rasulullah saw.. (Fathul Bari)

Sekali lagi, peristiwa-peristiwa yang terjadi itu membuktikan kebenaran kebijaksanaan Rasulullah. Membenarkan pandangannya yang jauh ke depan serta politiknya yang tepat sekali. Dan hal itu juga membuktikan bahwa ketika membuat Perjanjian Hudaibiyah, beliau telah meletakkan dasar yang sangat kokoh dalam politik dan penyebaran Islam. Dan inilah kemenangan yang nyata itu.

Hikmah dari kisah di atas:

Jika agama yang kuat telah merasuk ke dalam diri seseorang, maka tidak ada satu kekuatan pun di muka bumi ini yang dapat merusak dan melepaskan agama itu dari dirinya. Allah Swt. berjanji akan selalu menolong setiap muslim, dengan syarat ia adalah seorang muslim yang sebenarnya.

Setelah Perjanjian Hudaibiyah, agama Islam tersebar luas, berkembang lebih cepat daripada sebelumnya. Jumlah mereka yang datang ke Hudaibiyah ketika itu sebanyak 1.400 orang. Namun dua tahun kemudian, tatkala Rasulullah hendak membuka Makkah, jumlah mereka yang datang sudah mencapai 10.000 orang.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah itu memang membuktikan kebenaran pendapat Rasulullah SAW. Bahkan lebih cepat dari yang diduga para sahabatnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa dengan Perjanjian Hudaibiyah tersebut Islam telah memperoleh keuntungan besar yang luar biasa. Dan dua bulan sesudah itu, terbuka jalan bagi Rasulullah untuk mengirimkan surat-surat kepada para raja dan kepala negara asing, mengajak mereka masuk Islam.

============================



Dengan adanya Perjanjian Hudaibiyah ini juga segala hubungan antara Quraisy dan Rasulullah beserta kaum Muslimin menjadi tenang. Masing-masing pihak kini merasa aman pula. Quraisy mencurahkan seluruh perhatiannya pada perluasan perdagangan, dengan harapan moga-moga semua kerugian yang dialaminya selama perang dengan Muslimin dapat ditarik kembali.

Sebaliknya, Rasulullah SAW mencurahkan segenap perhatiannya pada kelanjutan dakwa Islam, menyampaikan ajarannya kepada seluruh umat manusia di segenap pelosok dunia. Beliau memfokuskan perhatian dalam rangka menciptakan ketenteraman kaum Muslimin di seluruh jazirah. Untuk itulah beliau mengirimkan beberapa utusan kepada raja-raja di sejumah negara, disamping mengosongkan orang-orang Yahudi dari seluruh Jazirah Arab, yang semuanya berhasil dilakukan seusai Perang Khaibar.