Memaparkan catatan dengan label Kisah Nabi. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Kisah Nabi. Papar semua catatan

Rabu, 8 Februari 2012

CARA HAFAZ AL QURAN

Membudayakan Pembacaan Al Quran
Imam dan Khatib di Masjid Nabawi ; Asy Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al Qasim

Segala pujian hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabat seluruhnya.

Keistimewaan methodologi ini adalah seseorang -itu- akan memperolehi kekuatan dan kemampanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal, sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran. (InsyaAllaah)

Berikut kami akan paparkan methodenya berserta pencontohan dalam menghafal surah Al Jumu’ah :

1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan,
dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.

********
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan,
dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.

********
11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran.

Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperlapan juz (1/8 juz bersamaan sehelai suku) -!!!-. Kerana yang sedemikian itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat, sehingga –memungkinkan- kamu tidak mampu menghafalnya.  


BAGAIMANA CARANYA JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA?

Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan methode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kukuh dan kuat dalam ingatanmu.

Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu boleh memulai hafalan baru dengan methode yang aku sebutkan di atas. .


BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?

Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang –terlebih dahulu- hafalan yang sudah ada sebelumnya. Hal itu kerana jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam - kamu baru mahu mengulanginya dari awal. Maka -mungkin- secara tidak disedari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang telah dihafal -sebelumnya-.

Oleh kerana itu methode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara muraja’ah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bahagikanlah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana setiap bahagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz.

Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua halaman tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu mampu menyelesaikan hafalan 20 juz.

Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, di mana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua halaman tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz.

Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.


BAGAIMANA CARA ME-MURAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METHODE MURAJA’AH DI ATAS?

Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari. Dengan demikian maka kamu akan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu. Dengan methode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kukuh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.

APA YANG PERLU AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?

Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Baginda membahagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bahagian (di mana setiap harinya baginda membaca satu bahagian tersebut), sehingga baginda mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.

Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membahagi Al Qur`an untuk dibaca setiap hari?”

Mereka menjawab:

 نُحَزِّبُهُ ثَلَاثَ سُوَرٍ وَخَمْسَ سُوَرٍ وَسَبْعَ سُوَرٍ وَتِسْعَ سُوَرٍ وَإِحْدَى عَشْرَةَ سُورَةً وَثَلَاثَ عَشْرَةَ سُورَةً وَحِزْبَ الْمُفَصَّلِ مِنْ قَافْ حَتَّى يُخْتَمَ

“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni) :
Tiga surah, lima surah, tujuh surah, sembilan surah, sebelas surah, tiga belas surah dan hizb al Mufashshal ; iaitu dari surah Qaf sampai akhir (mushaf).”
(HR. Ahmad, no. 15578).

Maksudnya :
Hari pertama : Mereka membaca surah al Fatihah hingga akhir surah an Nisaa`.
Hari kedua : Dari surah al Maa-idah hingga akhir surah at Taubah.
Hari ketiga : Dari surah Yunus hingga akhir surah an Nahl.
Hari keempat : Dari surah al Israa’ hingga akhir surah al Furqan.
Hari kelima : Dari surah asy Syu’ara hingga akhir surah Yasiin.
Hari keenam : Dari surah ash Shaffaat hingga akhir surah al Hujuraat.
Hari ketujuh : Dari surah Qaaf hingga akhir surah an Naas.

Para ulama meringkaskan bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- ini menjadi kata:
فَمِي بِشَوْقٍ

Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surah yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka:

- Huruf ‘fa`’ adalah simbol dari surah ‘al Fatihah’.
Maksudnya bacaan Al-Qur`an baginda di hari pertama dimulai dari surah al Fatihah.
- Huruf ‘mim’
Maksudnya bacaan Al-Qur`an baginda di hari kedua dimulai dari surah al Maa-idah.
-Huruf ‘ya`’
Maksudnya bacaan Al-Qur`an baginda di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
-Huruf ‘ba`’
Maksudnya bacaan Al-Qur`an baginda di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al Isra`.
- Huruf ‘syin’
Maksudnya bacaan Al-Qur`an baginda di hari kelima dimulai dari surah asy Syu’ara`.
- Huruf ‘waw’
Maksudnya bacaan Al-Qur`an baginda di hari keenam dimulai dari surah wash shaffaat (ash Shaffaat).
- Huruf ‘qaaf’
Maksudnya bacaan Al-Qur`an baginda di hari ketujuh dimulai dari surah Qaf hingga akhir mushaf iaitu surah an Naas.

Adapun pemba
hagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.


BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?

Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya.

Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbezaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.


BEBERAPA KAEDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN :

1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang boleh membetulkan bacaanmu jika salah.

2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari :
1 halaman selepas Subuh dan 1 halaman selepas Asar atau Maghrib.

Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasiti hafalan setiap harinya, maka –berkemungkinan besar- kemampuan menghafalmu akan melemah.

3- Menghafallah mulai dari surah an Naas sehingga surah al Baqarah kerana hal itu lebih mudah.

Namun setelah kamu menghafal Al-Qur`an, maka urutan muraja’ah mu -hendaklah- dimulai dari Al-Baqarah sehingga An-Nas.

4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (samaada pada cetakan maupun bentuknya), kerana hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya.

5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama, biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fasa at tajmi’ (pengumpulan hafalan).

Kerananya janganlah kamu bersedih kerana ada sebahagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fasa yang sulit sebagai ujian bagi kamu, dan ini adalah fasa rentan yang boleh menjadi pintu masuknya syaitan –laknatullah- untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an.

Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, kerana ia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarangan orang.



[Oleh : Asy Syeikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al Qasim ; imam dan khathib di Masjid an Nabawi, Madinah]
Disunting daripada :
http://www.2lisan.com/tips-tricks/cara-termudah-menghafal-al-quran-al-karim/

Khamis, 12 Januari 2012

Islam Adalah Agama Terawal Dan Terakhir .

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على النبي والمرسلين

Semenjak kebelakangan ini saya kerap ditanya saudara-saudara seagama saya mengenai sejarah asal kemunculan agama Islam yang dicintai dan diperjuangkan ini, Alhamdulillah .. secara peribadinya saya menganggap ini adalah tanda kesedaran saudara-saudara saya ini terhadap pengetahuan semakin memuncak. Namun dalam masa yang sama berbagai tanggapan dan cerita-cerita yang dikeluarkan berkaitan sejarah awal agama Islam ini hanya dikaitkan kepada zaman Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang dikesali kerana ia adalah bertentangan dengan nas-nas di dalam Al Qur'anul Kariim. Tidak dinafikan juga ada segelintir pula yang menyangka agama anutan nabi-nabi terdahulu adalah Yahudi.

Inilah jawaban saya sekadar mampu, agama Islam sebenarnya bukan bermula datangnya pada zaman Nabi Muhammad SAW. Agama Islam adalah agama kepada seluruh nabi dan rasul. Allah telah menafikan bahawa bapa segala nabi iaitu nabi Ibrahim a.s itu bukanlah beragama Yahudi atau Nasrani (Masihi) apalagi seorang musyrik, sebagaimana firmanNya :
مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Bukanlah Nabi Ibrahim itu seorang pemeluk agama Yahudi, dan bukanlah ia seorang pemeluk agama Nasrani (Masihi/Kristian) , tetapi ia seorang yang tetap di atas dasar Tauhid sebagai seorang Muslim (yang taat dan berserah bulat-bulat kepada Allah), dan ia pula bukanlah dari orang-orang musyrik.(Ali 'Imraan 3:67)

Ayat ini merupakan jawaban bagi perdebatan orang-orang Yahudi dan Nasrani mengenai agama Nabi Ibrahim as. Mereka masing-masing berpendapat bahwa Ibrahim menganut agama yang dipeluk oleh golongannya. Pendapat mereka itu sebenarnya adalah dusta kerana tidak didasarkan pada bukti-bukti yang nyata. Yang benar ialah keterangan yang didasarkan wahyu yang dipegangi kaum muslim, kerana orang-orang Islam memeluk agama seperti agama yang dipeluk oleh Nabi Ibrahim dan agama Islam mempunyai prinsip-prinsip yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Maka jelaslah bahwa Nabi Ibrahim itu tidak memeluk agama Nasrani dan tidak pula pemeluk agama Yahudi akan tetapi Nabi Ibrahim itu seorang yang taat kepada Allah, tetap berpegang kepada petunjuk Tuhan serta tunduk dan taat kepada segala yang diperintahkan Nya.

Kemudian Allah SWT menegaskan bahawa Nabi Ibrahim tidak menganut kepercayaan orang-orang musyrikin, yaitu orang-orang kafir Quraisy dan suku Arab lainnya, yang menganggap diri mereka mengikuti agama Nabi Ibrahim.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Nabi Ibrahim itu adalah orang yang dimuliakan oleh segala pihak, baik orang-orang Yahudi, Nasrani ataupun orang-orang musyrikin. Akan tetapi sayang pendapat mereka tidak benar, kerana Nabi Ibrahim itu tidak beragama seperti agama mereka. Beliau adalah muslim (yang beragama Islam) yang ikhlas kepada Allah, sedikitpun tidak pernah mempersekutukan Nya.*

Sudah jelas sabitnya pula Nabi Ibrahim a.s adalah beragama Islam sebagaimana dalam firman Allah :
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Wahai Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua: orang-orang Islam (yang berserah diri) kepadaMu, dan jadikanlah daripada keturunan kami: umat Islam (yang berserah diri) kepadamu, dan tunjukkanlah kepada kami syariat dan cara-cara ibadat kami, dan terimalah taubat kami; sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani; (Al-Baqarah 2:128)

Agama Islam inilah juga yang dibawa oleh Nabi Ismail, Ishak, Ya'kub dan nabi-nabi yang lain. Keberlansungan waris-mewariskan agama Islam ini berlaku terus menerus sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur'an. Firman Allah :
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
(Ingatlah) ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Serahkanlah diri (kepadaKu wahai Ibrahim)!" Nabi Ibrahim menjawab: "Aku serahkan diri (tunduk taat) kepada Tuhan Yang Memelihara dan mentadbirkan sekalian alam".
(Al-Baqarah 2:131)

Pada ayat ini Allah memerintahkan agar Ibrahim menjadi muslim ; mengakui keesaan Allah dan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya saja. Yang dimaksud dengan "tunduk patuhlah" di sini ialah tunduk dan patuh kepada agama Allah, agama yang sesuai dengan akal pikiran serta dengan dalil-dalil atau bukti-bukti yang nyata, agama yang akan dilanjutkan penyampaiannya oleh rasul-rasul yang datang kemudian, termasuk Nabi Muhammad saw.

Firman Allah lagi :
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Dan Nabi Ibrahim pun berwasiat dengan agama itu kepada anak-anaknya, dan (demikian juga) Nabi Yaakub (berwasiat kepada anak-anaknya) katanya: "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama (Islam) ini menjadi ikutan kamu, maka janganlah kamu mati melainkan kamu dalam keadaan Islam".
(Al-Baqarah 2:132)

Nabi Ya'kub a.s yang menjadi bapa kepada bani Isra'el juga berwasiatkan perkara yang sama kepada anak-anaknya. Firman Allah :
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

(Demikianlah wasiat Nabi Yaakub, bukan sebagaimana yang kamu katakan itu wahai orang-orang Yahudi)! Kamu tiada hadir ketika Nabi Yaakub hampir mati, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apakah yang kamu akan sembah sesudah aku mati?" Mereka menjawab: "Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan datuk nenekmu Ibrahim dan Ismail dan Ishak, iaitu Tuhan yang Maha Esa, dan kepadaNyalah sahaja kami berserah diri (dengan penuh iman yakni sebagai muslimuun)".
(Al-Baqarah 2:133)

Apa saja isu berkaitan keburukan umat sebelum itu adalah urusan yang telah lalu. Firman Allah :

Mereka itu adalah satu umat yang telah lalu sejarahnya; bagi mereka (balasan) apa yang mereka telah usahakan, dan bagi kamu pula (balasan) apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan ditanya (atau dipertanggungjawabkan) tentang apa yang telah mereka lakukan.(Al-Baqarah 2:134) 

Kaedah penafsiran Al Qur'an menyebut :
العبرة بعموم الحكم لا بخصوص السباب
"Ibrah/pengajaran adalah dengan umumnya sesuatu hukum bukan dengan khususnya sebab (tidak perlu didetailkan perkara yang tidak menjadi pengajaran)"

Jelasnya kita dituntut mengambil ibrah/pengajaran daripada kisah mereka bukan selainnya.

Manakala Nabi Muhammad dan pengikutnya itu adalah pembawa agama Islam yang terakhir dan adalah paling layak digelar pewaris nabi Ibrahim a.s. Firman Allah :
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang hampir sekali kepada Nabi Ibrahim (dan berhak mewarisi agamanya) ialah orang-orang yang mengikutinya dan juga Nabi (Muhammad) ini serta orang-orang yang beriman (umatnya - umat Islam). Dan (ingatlah), Allah ialah Pelindung dan Penolong sekalian orang-orang yang beriman.
(Aali 'Imraan 3:68)

Agama Islam ini telah sempurna dengan sempurnanya nubuwwah (berakhirnya kenabian) dengan wafatnya baginda SAW sebagai khatamul Anbiya. Maka jelas dan nyata hanya ajaran Islam yang dibawa dan disebarkan dengan teladan Nabi Muhammad saja diterima oleh Allaah SWT.

Allah SWT memberikan penegasan dalam ayat di atas bahawa orang-orang yang paling berhak menjadi pendukung Nabi Ibrahim dan yang paling setia agamanya bukanlah orang-orang yang mengaku saja bahwa Nabi Ibrahim memeluk agamanya, akan tetapi orang-orang yang mengikuti jejak Nabi Ibrahim dan meneruskan dakwahnya. Tentu saja orang-orang itu adalah orang-orang yang beragama tauhid dan dengan ikhlas melaksanakan agamanya. Mereka itu haruslah orang-orang yang berserah diri kepada Allah semata, jauh dari sifat-sifat syirik. Sifat-sifat serupa ini terdapat pada Nabi Muhammad SAW dan pengikut-pengikut baginda.

Mereka memeluk agama Tauhid, sedikitpun tidak terdapat dalam agamanya ajaran-ajaran pemujaan terhadap pemimpin dan tidak membenarkan adanya gerantara dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Mereka itu ikhlas dan beramal semata-mata karena Allah tidak karena syirik dan riya.
Kesemuanya itu adalah inti dari pada ajaran Islam. Oleh sebab itu apabila ada agama yang tidak mengikuti prinsip-prinsip tersebut maka agama itu telah jauh menyeleweng dan hanya tinggal bekas-bekasnya saja.

Kemudian Allah SWT menjanjikan bahwa Dia akan memberikan bantuan, kekuatan dan taufik kepada orang-orang mukmin karena memang Allah lah yang menguasai dan mengendalikan urusan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka serta memberikan pahala sesuai dengan banyak sedikitnya mereka mengamalkan ajaran Islam.

Sekadar mampu. Wallahu a'lam.


*Nabi Ibrahim juga disebut sebagai yang beragama hanif berdasarkan firman Allah swt.:
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ertinya: Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S Al An'am: 79)