Memaparkan catatan dengan label kisah tauladan. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label kisah tauladan. Papar semua catatan

Selasa, 19 Jun 2012

Dr Musthofa As Sibaa'ie ; Ulama dan Mujahid Agung Syria



Dr Musthofa As Sibaa'ie dilahirkan di Hims, Suriah, Syria pada tahun 1915 dari keluarga ulama. Ayah dan datuk beliau adalah khatib masjid raya Hims, jabatan khatib tesebut telah dijawat turun temurun semenjak ratusan tahun lamanya. Ayah beliau ; Husni As Sibaa'ie terkenal sebagai seorang mujahid yang amat gigih menentang penjajahan, beliau berjuang dengan harta dan jiwanya dalam menghadapi penjajahan tentera Perancis laknatullah.



Sebagaimana halnya beliaupun adalah merupakan penggagas lembaga-lembaga kebajikan Islam an sosial sehingga hal tersebut cukup mempengaruhi pertumbuhan dan pendidikan putra beliau Musthofa As Sibaa'ie. Kehidupan yang sulit dan keras dalam suasana penjajahan juga mempengaruhi petumbuhan beliau, terutama memupuk sikap patriotik dan perlawanan terhadap penjajah dan antek-anteknya.

Semenjak muda Musthofa As Sibaa'ie selalu menghadiri majlis ilmu ayahnya, dan hal tersebut memupuk kealiman dan kefaqihan beliau dalam menyelesaikan masalah-masalah fiqhiyyah, khususnya fiqih komparatif. Sehingga dalam waktu yang tidak lama beliau terhitung sebagai ulama serta faqih, dan hal itulah yang mendorong beliau untuk terjun langsung dalam medan jihad dan "islah" reformasi serta membenteras bid'ah.

Dr Musthofa As Sibaa'ie menikah di Dimasq, ketika beliau meminang calon istrinya, pihak peminang menginformasikan kepada pihak keluarga wanita bahawa; Mushtofa As Sibaa'ie adalah seorang aktivis da'wah, dan kebanyakan waktunya akan tersita untuk kepentingan da'wah. Hal tersebut diungkapkan agar pihak keluarga wanita memakluminya sebelum pinangan diterima, dan akhirnya keluarga wanita menerima hal tersebut.

Kehidupan As-Sibaa'ie

Masa kanak-kanak dan pertumbuhan beliau di bawah asuhan orang tuanya yang dikenal sebagai ulama Hims, beliau senantiasa menghadiri majlis ilmu ayahnya, bahkan ayahnya selalu mendorong beliau agar mempelajari ilmu Syariah.

As Sibaa'ie ketika muda berbeza dengan pemuda-pemuda lainnya, di usia mudanya dia aktif dengan kegiatan-kegiatan menentang penjajahan. Di usianya seawal 16 tahun (1931), beliau telah menganyam kehidupan kerangkeng untuk pertama kalinya, beliau ditangkap oleh penjajah Perancis karena mengkoordinir kawan-kawannya dalam menyebarkan selebaran yang mengkritik kebijakan penjajahan Perancis.

Musthofa As Sibaa'ie tidak kapok dengan pengalaman pertamanya dijebloskan ke dalam penjara, beliau ditangkap untuk kedua kalinya oleh pihak Perancis karena khutbah jumat beliau di mesjid raya Hims dianggap menggugah ruh jihad dan perjuangan warga Hims melawan penjajah Perancis.Dalam sejarah perlawanannya menentang penjajahan Perancis,perjuangan beliau tidak hanya dengan "kalam" belaka tapi beliau pun memimpin kawan-kawannya mengadakan perlawanan bersenjata menentang Perancis, seperti terjadi pada tahun 1945.

Tahun 1933 Mushthofa As Sibaa'ie melanjutkan pendidikannya di Al Azhar. Sampai di Mesirpun jiwa kepahlawanannya tidak menyusut, bahkan bersama shahabat-sahabat Mesirnya beliau ikut serta berunjuk rasa menentang penjajahan Inggris, demikian halnya ketika sahabat-sahabat Iraknya mengadakan unjuk rasa menentang penjajahan Inggris beliau tidak ketinggalan, sehingga beliau ditangkap oleh pemerintah Inggris saat itu. Tiga bulan beliau meringkuk dalam sel penjara Mesir, Syaikh Azhar saat itu,Musthofa Al Maraghi ikut turun tangan dalam berusaha mengeluarkan As Sibaa'ie dari penjara, tapi kemudian beliau dipindahkan ke penjara Palestina selama empat bulan lamanya, setelah itu beliau dibebaskan dengan jaminan.

Musthofa As Sibaa'ie selanjutnya tidak diperkenankan kembali ke Mesir, padahal beliau sedang mempersiapkan disertasi doktornya. Pemeritah penjajahan Inggris melarang As Sibaa'ie masuk Mesir karena beliau dianggap sebagai pemicu gerakan anti Inggris, bahkan dianggap sebagai biang keladi revolusi bangsa Mesir terhadap Inggeris. Hal tersebut terjadi tahun 1940.

Tahun 1949 As Sibaa'ie baru dapat mengajukan disertasi doktornya yang cukup dikenal di kalangan ulama saat ini "As Sunnah Wa Makanatuha Fi At Tasyri'" (Kedudukan Sunnah dalam Syariah* ) As Sibaa'ie dengan tesisnya tersebut mendapat kelulusan dengan suma cumlaude. Dalam tesisnya tersebut As Sibaa'ie menyanggah habis argumen kaum Orientalis tentang kedudukan AS Sunnah dalam Syariat Islam. Disamping beliaupun menulis buku khusus tentang orientalis dengan judul "Alistisyraq Wal Mustasyriqun" Orientalisme dan kaum Orientalis.
Dalam masa pendidikannya di Al Azhar itulah beliau berhubungan dengan Imam Hasan Al Banna pengasas gerakan Ikhwanul Muslimun. Bahkan hubungan beliau berlanjut sampai setelah kepulangan beliau ke Suriah. Tahun 1942 berdirilah Ikhwanul Muslimun Suriah dibawah pimpinan beliau. Sehubungan dengan pendirian Ikhwanul Muslimun Suriah, Hasan Al Banna mengirim utusan khususnya Dr Said Ramadhan (menantu Hassan Al Banna). Di tahun pertama setelah berdirinya Ikhwanul Muslimun tercatat 100 ribu orang lebih anggota.

Sebelum dibentuknya Ikhwanul Muslimun Suriah, amal da'wah di Suriah digerakkan oleh lembaga-lembaga da'wah yeng kemudian bersatu setelah dibentuknya Ikhwanul Muslimun. Diantara lembaga tersebut adalah; "Jamiyyah Subbanul Muslimin" Damaskus pimpinan Dr Muhammad Mubarak, "Darul Arqom", dan "Jamiyyah Al Ikhwan Muslimun" yang diprakarsai oleh Assyaikh Mahmud Utsman atas usulan Imam Hasan Al Banna.

Jiwa patriotik dan semangat jihad Dr Musthofa As Sibaa'ie menggerakkan beliau untuk membawa pasukan Ikhwanul Muslimun dalam Jihad Palestina 1948 melawan Zionisme Yahudi bersama pasukan Ikhwan Iraq yang dipimpin oleh Muhammad Mahmud Showwaf dan Ikwan Mesir yang dipimpin oleh Abdurahman Al Banna, serta Ikhwan Yordania .

Tapi perjuangan Ikhwan yang dilandasi oleh aqidah dan tanggung jawab atas "Ardul mubarak" di khianati oleh para pemimpin Arab saat itu, bahkan para mujahid Ikhwan Mesir langsung digiring ke penjara sesampainya mereka ke tanah air, yang mereka sisakan diluar tahanan hanya Imam Hasan Al Banna, dan dalam kondisi seperti itulah para musuh Islam menghabisi Asy Syahid Al Imam, dengan harapan besar bahwa dengan dihabisinya Al Imam Syahid punah pulalah gerakan da'wah Ikhwanul Muslimun. "Wamakaru wamakarollah" Mereka berbuat makar dan Allah membalas makar mereka.

Sepulang dari jihad Palestina, As Sibaai' tak menghentikan thabiat jihadnya. Kali ini beliau berjihad dari dalam Suriah sendiri dengan tulisan dan kalamnya, dengan taujih dan tarbiyyahnya kearah islah dan membina generasi mujahid dengan manhaj Islami yang benar, mulai dari pembentukan pribadi yang Islami, keluarga Islami, masyarakat Islami, dan akhirnya berdirinya Daulah Islamiyyah.

Tahun 1950 Beliau termasuk anggota komisi perumus undang-undang. Dengan perjuangannya beliau berhasil memberi warna Islami pada rancangan Undang-undang Suriah dalam pasal-pasal yang sangat esensi, dan berhasil mengikis usaha sekularisasi UU Suriah

Dr Musthofa As Sibaa'ie bersama sahabat-sahabat seperjuangannya berhasil memperjuangkan masuknya pelajaran pendidikan Islam dalam kurikulum pendidikan, disamping itu beliaupun berhasil pula membuka jurusan Syariah di Universitas Suriah (sekarang Universitas Damaskus).

Dr Musthofa As Sibaa'ie pun mengusulkan penyusunan ensiklopedia fiqh, sehingga masalah-masalah fiqhiyyah dapat ditampilkan dalam format baru, di samping menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah kontemporer, dengan berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah serta pendapat-pendapat Salafush-shoolih. Ensiklopedi tersebut sekarang telah digarap oleh para ulama muslim terkenal dari seluruh penjuru dunia, sampai saat ini sudah sampai huruf "qof" dan mencapai 38 jilid dalam format besar.

Dalam dunia Islam Dr Musthofa As Sibaa'ie dikenal sebagai seorang tokoh gerakan Islam yang alim dan faqih. Tahun 1951 beliau sempat menghadiri mu'tamar Islami yang diadakan di Pakistan, dalam kesempatan tersebut beliau sempat bertemu dengan tokoh-tokoh dunia Islam.

Tahun 1952 Dr Musthofa As Sibaa'ie meminta agar pemerintah Suriah mengizinkan beliau dan anggota Ikhwan Suriah keluar dari Suriah untuk turut berjihad bahu-membahu bersama Ikhwan Mesir dalam menghadapi Inggris di Terusan Suez. Rupanya permohonan tersebut berakibat fatal, yang mengakibatkan Ikhwanul Muslimun Suriah dilarang selanjutnya mereka di selkan dan Dr As Sibaa'ie dibuang ke Lebanon setelah sebelumnya dipecat dari Universitas Damaskus. Seperti itulah resiko perjuangan membela kebenaran. Tapi hikmah Allah dibalik semua itu, di Libanon AS Sibaai' justru senantiasa dikerumuni para pemuda, dan itulah cikal bakal gerakan Islam Lebanon "Al Jamaah Al Islamiyyah" yang di dirikan tahun 1964 dan membuahkan dai' muharrik kondang Fathi Yakan.


Tahun 1953 Dr Sibaai' pun sempat menghadiri konfrensi Islam untuk pembelaan Al Quds yang diadakan di kota Al Quds dan dihadiri oleh perwakilan Ikhwanul Muslimun dari seluruh negara Arab dan para tokoh Islam dunia, termasuk saat itu hadir Dr Muhammad Natsir sebagai wakil Indonesia.

Tahun 1954 para pemimpin Ikhwan bertemu di Libanon dalam mu'tamar Islam dan Kristen, hadir dalam mu'tamar tersebut Ustadz Hasan Hudaibi "mursyid" Ikhwanul Muslimun Mesir saat itu, Ustaz Muhammad Mahmud Showwaf pimpinan Ikhwan Iraq, Ustadz Muhammad Abdurahman Khalifaf pimpinan Ikhwan Yordania, Ali Tholibullah mewakilli Sudan, dan Abdul Aziz Mathu' dari Kuwait serta Dr As Sibaa'ie sendiri sebagai pemimpin Ikhwan Suriah.
Sepulangnya Hasan Hudaibi dari Lebanon rezim Jamal Abdul Nasher menjebloskan mursyid Ikhwan kedua Hasan Hudaibi beserta ikhwan lainnya. Ikhwanun Muslimin Arab kemudian membentuk "maktab tanfidhi" yang dipimpin oleh Dr Mushtofa As Sibaa'ie

Pengaruh Dr Musthofa As Sibaa'ie bukan hanya dirasakan oleh para pemuda Suriah, tapi para pemuda Turki yang menuntut ilmu di Suriah merasakan pengaruhnya, mereka senantiasa hadir dalam majlis-majlis As Sibaa'ie, bahkan hubungan mereka terus berlanjut setelah kepulangan mereka ke Turki.

Kiprah da'wah Dr As Sibaa'ie tidak hanya dalam mimbar dan podium, beliaupun berkiprah dalam melahirkan majalah mingguan "As Syihab" bahkan beliau sempat memimpin majalah "AL Muslimun" setelah majalah tersebut ditutup di Mesir, sampai tahun 1958, kemudian penerbitan majalah tersebut berpindah ke Swis seiring dengan hijrahnya Dr Said Ramadhan ke Swis. Bersamaan dengan itu beliaupun menerbitkan majalah bulanan "Al Hadhoroh Al Islamiyyah" sebagai pengganti Al Muslimun.

Sedangkan tulisan beliau yang dibukukan adalah: 1- Syarah Qonun Al Ahwal Ashshakhsiyyah, 3 jilid 2- As Sunnah Wamakanatuha Fi At Tasyri', tesis doktornya (sudah diterjemahkan) 3- Al Marah baina Al Fiqhi Wal Qonun (sudah diterjemahkan) 4- Isytirokiyyah Al Islam (Sudah diterjemahkan) 5-As-Sirah An Nabawiyyah Durusun Wa Ibar, buku yang mengilhami para penulis fiqh sirah (sudah diterjemahkan) Dan banyak lagi karangan beliau yang sarat dengan taujih serta Ilmu.

Aktitas da'wah beliau tak pernah berhenti sampai pada masa sakit beliau yang berkepanjangan, tubuh beliau lumpuh sebelah selama delapan tahun, beliau senantiasa shabar menghadapi ujian tersebut, tak pernah mengeluh, ridho dengan apa yang menimpanya, tahmid, tasbih dan istighfar senantiasa menghiasi bibirnya siang dan malam. Penyakitnya sama sekali bukan suatu penghalang bagi dirinya dalam menyampaikan da'wah.

Dalam salah satu ungkapan As Sibaa'ie kepada sahabatnya, beliau berkata: "Aku dalam keadaan sakit, jelas aku merasakan sakitnya. Dan andapun dapat melihatnya dari roman (riak) wajahku, dan dari tanganku yang tak dapat bergerak. Tapi lihatlah keagungan Hikmah Allah di sebalik semua itu, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa mentakdirkan aku menjadi orang yang lumpuh, dan terbukti sebagian tubuhku lumpuh... Tapi, perhatikan bahagian mana yang lumpuh? Allah telah melumpuhkan bahagian tubuhku sebelah kiri, dan membiarkan bahagian tubuh sebelah kanan tetap bergerak. Betapa Agung Ni'mat Allah yang aku rasakan membiarkan bagian tubuh kananku tetap bergerak. Dapatkah aku tetap menulis kalau Allah mentakdirkan tubuh bagian kananku juga mengalami kelumpuhan? "

Subhanallah, bahkan menurut peraksian shahabat-shahabat seperjuangan beliau, Dr As Sibaa'ie sangat giat dan aktif dalam masa sakitnya. Dr Adib Sholeh sahabat dekat beliau berkata: "Sehari sebelum hari wafatnya, beliau masih sempat menulis tiga tulisan; Al Ulama Al Auliya, Al Ulama Al Mujahidun dan Al Ulama Asy Syuhada".

Betapa jauhnya diri kita dari keteladanan beliau dalam meneladani perjuangan Rasul SAW, betapa jauh perbezaan sikap yang dimiliki oleh beliau dengan kiprah kita dalam da'wah, bahkan terkadang kewajiban diri kitapun masih sering terlupakan, bahkan kita masih banyak kurangnya dari pada lebihnya.

Dr Mushtofa As Sibaa'ie menemui Rabbnya pada hari sabtu, 3/10/1964 di kota kelahirannya Hims setelah melalui perjalanan hidupnya yang penuh dengan perjuangan dan jihad.Jenazahnya dishalatkan di Damaskus di mesjid Al Umawi. Ribuan orang turut menyolati jenazahnya, tak lupa para tokoh gerakan Islam Suriah turut memberi kalimat akhir bagi kepergian Mujahid besar As Sibaai', semisal Dr Muhammad Mubarak, Dr Muhammad Adib Sholeh, Dr Hasan Huwaidi dan tokoh lainnya.
Diantara nasihat beliau dalam buku "Hakadza A'lammatni Al hayaat" adalah Tentang Istiqomah
"Istiqamah suatu jalan yang awalnya penuh dengan Karomah, pertengahannya dipenuhi keselamatan, dan ujungnya adalah surga"

Tentang keberhasilan dalam pertempuran di kancah politik
"Hati yang salim, tangan yang bersih, aqidah yang benar, ahlak yang lurus "istiqomah" ... Tapi tidak cukup hanya sekedar itu dalam menggapai keberhasilan dalam pertempuran di kancah politik, selama tidak memiliki kecemerlangan berfikir, fleksibel dalam amal, semangat yang hangat serta memahami problem masyarakat dan thabiat manusia"

Dalam kesempatan lainnya Dr Mushtofa As Sibaai' mengingatkan kita semua bahwa:
Ada dua macam kecintaan yang tak dapat menyatu
Cinta kepada Allah dan cinta kemaksiatan
Cinta akan (Jihad) dan cinta kehidupan
Cinta terhadap pengorbanan dan cinta akan harta
Cinta akan kebenaran "Al haq" dan cinta akan kepemimpinan
Cinta akan perdamaian dan cinta untuk membalas dendam
Cinta akan perbaikan "ishlah" dan cinta akan keselamatan
Cinta terhadap perjuangan dan cinta untuk hidup santai
Cinta akan keadilan dan cinta akan penghambaan
Cinta terhadap rakyat dan cinta terhadap thogut
Cinta untuk berbuat kebaikan dan cinta untuk berbuat curang

Sumber:
http://tesur.tripod.com/islam/sibaai.html

Sabtu, 17 Mac 2012

Buat Keluarga Syuhada

[Sekadar Gambar Hiasan]
Tersebutlah sudah kisah keluarga syuhada ...

Yasir Bin Amir bin Malik dari Yaman asal usulnya
Tiba di Makkah jejaki saudara bersama 2 temannya
Akhir menetap ia dan Abu Huzaifah jadi sahabatnya
Si jariah Sumaiyah Khubath pula dijadikan isterinya

Hiduplah mereka berdua seadanya dengan bahagia
Dikurnia pula mereka dengan si comel riang ria
Ammar namanya diberi, dimanjai dan dikasihi ia
Masa berlalu, bersualah pula Nabi khatamun anbia

Saat itu, marah musyrikin Makkah tak kepalang lagi
Agama Islam sedayanya dihalang puak Quraisyi
Abu Jahal dialah si ketua petualang para pembenci
Islam yang masih lemah dicaci dihina sesuka hati

Memeluklah mereka akan Islam setelah mentafsir
Segala perintah agama ditunaikan walau secara siir
Nah ! akhir terbocor, dizalimi keluarga ini di padang pasir
Diseksa sekeluarga ini dan salah mereka tiada ditaksir

Dikurung diikat Yasir sekeluarga tanpa dikasihani
Dipukul diseksa lalu diperaga oleh yang berjiwa haiwani
Diheret mereka seperti tiada harga oleh si syaithoni
Walau apa terjadi, mereka bertahan demi Islam diyakini

Suasana pilu menikam jiwa, berita mereka luas tersebar
Doa nabi dan janji Jannah buat keluarga yang penyabar
Semangat membara, segala sedih duka mulalah terbakar
Iman mereka dan kaum muslimin semakinlah berkobar

Derita Sumaiyah yang terus diseksa bukan kepalang,
Akhirnya nyawa melayang, ke hadrat Alllah jua ia pulang
Terukir indah kuntum senyuman - kesakitan menghilang
Tergambarkan nikmat yang mula tiba menjelang datang

Kuffar Quraisy melihat geram dan mula rasa hina terpukul
Sumaiyah gugur dengan senyum manis yang tersimpul
Yasir pula terus dijadikan sasaran dendam si pemukul
Tewaslah jua akhirnya Yasir si suami dan bapa yang unggul

Sedang kuffar celaka berpesta nyawa tanpa sedar balasan
Si anak ; Ammar pula dipaksa melihat segala jenis seksaan
Ditabahkan hatinya utnuk menempuh rintangan dan ujian
Setelah dipaksa dan akhir dituruti.. bebaslah Ammar kemudian

Di sisi Rasulullah yang dikasihi, Ammar lebih teguh tegap berdirii
Semua peperangan sertainya dengan jiwa yang amat berani
Dihunus pedang, perkasa menyerbu ke tengah sambil berlari
Kuffar Harbi mula kecut, menikus dan mula menghilangkan diri

Walau setelah Rasulullah telah dijemput Allah ke Jannati
Ammar tetap terus teguh berjuang untuk Islam dan berbakti
Kemudian memimpin pula ia ummat di Kufah seikhlas hati
Segala hal pentadbiran walau sekecil mana sekali tetap diteliti

Pangkat dan harta dilihat ia sebagai barang buruan yang keji
Beramal dan berkerja ia bukanlah kerana mengharap dipuji
Dusta dan zalim akan segera diperanginya sesungguh hati
Itulah ia AMMAR si pewaris pemilik peribadi-peribadi yg terpuji

Namun sebagaimana dikhabarkan oleh Rasul yang bersabada :
[Mafhum] Bahawa Ammar akan dibunuh oleh para penderhaka
Akhirnya, benarlah di usia 93, gugur syahid ia bagai ibuayahnya
Maka bersamalah ia dalam jannnah dan bersama keluarga tercinta

Walllahu a'lam


Lihat juga : Sumayyah Syahidah Pertama Dalam Sejarah

Sabtu, 25 Februari 2012

Kefahaman Dan Pengertian Tasyabbuh

بســم الله الـرحمــن الـرحـــيم
Segala puja-pujian hanya milik Allaah, Rabb sekalian alam. Salam dan Selawat ke atas Rasulullah dan keluarga serta para sahabat baginda, tabien dan seterusnya ke atas sekalian orang yang berusaha untuk mengikuti dan mempratikkan segala ajaran serta menjauhi segala larangan baginda.
Ya Allaah, sesungguhnya kami memohon kepada-MU dengan menyaksikan bahawa Engkau adalah Allaah, tiada Tuhan selain Engkau Yang Maha Esa dan Yang Menjadi Tumpuan sekalian makhluk untuk memohon sebarang hajat serta Yang Tidak Melahirkan Dan Tidak Pula Dilahirkan, dan tidak ada sesiapapun yang setanding-MU.
Tasyabbuh secara umumnya adalah menyerupai atau meniru.

Untuk mendapat pengertian dan penjelasan yang lebih, sayugia kita memahami apa yang disyarahkankan buat kita berdasarkan hadis tasyabbuh oleh as Sheikh Maulawi Ali bin Sultan Muhammad al Qari di dalam kitab beliau; dengan cara terjemahan saya yang hanya sekadar mampu . Semoga kita sama-sama beroleh manfaat daripadanya, InsyaAllah.

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم : " من تشبه بقوم فهو منهم "
رواه أحمد ، وأبو داود .

Rasulullah SAW bersaba : Barangsiapa yang menyerupai sesuatu kaum maka dia adalah daripada kalangan mereka.
[HR Imam Ahmad dan Abu Daud]

4347 - ( وعنه ) : أي عن ابن عمر ( قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -  .
4347 - (dan daripadanya) : yakni daripada Ibnu Umar (telah berkata dia : telah bersabdalah Rasulullah SAW) :

 ( من تشبه بقوم ) : أي من شبه نفسه بالكفار مثلا في اللباس وغيره ، أو بالفساق أو الفجار أو بأهل التصوف والصلحاء الأبرار .

"Barangsiapa yang menyerupai sesuatu kaum" ialah (bermaksud) siapa yang menyamakan dirinya dengan al kufar, contoh : dalam hal berpakaian dan selainnya, atau menyerupai akan dirinya dengan yang tidak bermoral (fasiq) atau yang berdosa / jahat (fajir), atau -menyerupai ahli Tasauf dan yang soleh al abrar.

( فهو منهم ) : أي في الإثم والخير

"Maka dia adalah daripada kalangan mereka"  : ialah (bermaksud) dalam hal samaada dosa dan kebaikan.

 قال الطيبي : هذا عام في الخلق والخلق والشعار ، ولما كان الشعار أظهر في التشبه ذكر في هذا الباب .  ) .
Telah berkata at - Tiibii : Dalam hal ini secara umumnya, adalah -menyerupai itu- pada fizikal, akhlak dan syiar (perlambangan/pakaian), bertasyabbuh pada pakaian itu lebih nyata sebagaimana disebut dalam bab ini.

قلت : بل الشعار هو المراد بالتشبه لا غير ، فإن الخلق الصوري لا يتصور فيه التشبه ، والخلق المعنوي لا يقال فيه التشبه ، بل هو التخلق ،

Aku berkata (pengarang): Bahkan pakaianlah yang dikehendaki dengan tasyabbuh (menyerupai) bukan selainnya. Kerana sesungguhnya bentuk fizikal tidak dapat digambarkan dengan tasyabbuh dan begitu juga dengan akhlak yang maknawi tidaklah disebut sebagai tasyabbuh, bahkan -kerana- ia disebut sebagai takhalluq (berakhlaq).

هذا وقد حكى حكاية غريبة ولطيفة عجيبة ، وهي أنه لما أغرق الله - سبحانه - فرعون وآله لم يغرق مسخرته الذي كان يحاكي سيدنا موسى - عليه الصلاة والسلام - في لبسه وكلامه ومقالاته ، فيضحك فرعون وقومه من حركاته وسكناته ;

Sesungguhnya inilah kisah sebuah hikayat yang pelik, halus lagi ajaib - Bahawasanya bila mana Allah menenggelamkan Firaun dan gerombolannya, tidak pula -Allah- menenggelamkan seorang tukang ejek (pelawak) Firaun, sedangkan dia berkelakuan meniru syaidunaa Musa dalam kelakunya samaada pada pakaian, perkataan dan percakapannya. Di mana gerak geri dan diamnya sekalipun akan ditertawakan oleh Firaun dan pengikutnya.

فتضرع موسى إلى ربه : يا رب ! هذا كان يؤذي أكثر من بقية آل فرعون ،

 Lantas Nabi Musa bertadharru' kepada Tuhannya "Wahai Tuhanku, lelaki ini adalah lebih menyakitiku berbanding pengikut Firaun yang lain" .

فقال الرب تعالى : ما أغرقناه ; فإنه كان لابسا مثل لباسك ، والحبيب لا يعذب من كان على صورة الحبيب ،

Maka Allah berfirman "Tiadalah Aku menenggelamkannya, maka sesungguhnya dia adalah berpakaian sepertimana pakaianmu. Dan kekasih itu tidak akan mengazab siapa yang menyerupai kekasih".

فانظر من كان متشبها بأهل الحق على قصد الباطل حصل له نجاة صورية ، وربما أدت إلى النجاة المعنوية ، فكيف بمن يتشبه بأنبيائه وأوليائه على قصد التشرف والتعظيم ، وغرض المشابهة الصورية على وجه التكريم ؟ ، وقد بسط أنواع التشبه بالمعارف في ترجمة عوارف المعارف .

Maka perhatikanlah, barangsiapa yang menyerupai ahli haq -walaupun- atas tujuan yang batil - masih menghasil baginya suatu pelepasan -azab- yang bersifat zahir dan mungkin membawa kepada pelepasan yang maknawi. Maka -bayangkanlah pula- bagaimana pula -yang terhasil- pada sesiapa yang bertasyabbuh (menyerupai / meniru) para Anbiya' dan auliya' di atas tujuan memulia dan meninggikannya - yakni bagi maksud menyerupai perwatakan yang bermaruah (terhormat) ? Selanjutnya bolehlah bertasyabbuh (meniru) ilmu pengetahuan dalam kearifan-kearifan ilmu pengetahuan.

(     رواه أحمد ، وأبو داود
[ -Syarah- HR Imam Ahmad dan Abu Daud ]

Sila rujuk :
Syarah-syarah hadis,
Mirqaatul Mafatih Syarah  Misykaat al Masyobih
Ali bin  Sultan Muhammad Al Qari   
دار الفكر
سنة النشر: 1422هـ / 2002م
رقم الطبعة: ---
عدد الأجزاء: تسعة أجزاء
رقم س- ج : 4347

Ahad, 25 September 2011

KISAH TAULADAN : Islam Dan Politik - Ulamak Dan Umara' (Pemerintah)

Sufyan At Thauri, putera Iraq, seorang ulama yang warak, zuhud dan mempunyai keperibadian dan keberanian untuk menyatakan kebenaran. Kebenaran itu adalah kebenaran dan kebatilan itu adalah kebatilan dan siapa pun dan dari mana pun datangnya.

Ia hidup sezaman dengan Khalifah Harun Ar Rasyid, bahkan Harun adalah sahabat karibnya sebelum memangku jawatan khalifah. Sebagai seorang alim yang sangat zuhud, ia sangat benci kepada Ulama-ulama yang terpengaruh dengan harta benda. (Ulama'us Su' menurut Imam al Ghazali).

Sufyan At Thauri berkata : "Alim ulama itu tidak ubahnya seperti doktor yang mengubati orang sakit. Harta benda adalah penyakitnya. Apabila Ulama telah merangkul penyakit kepada dirinya sendiri, bagaimana dia boleh mengubati orang lain?"

Kerana Harun Ar Rasyid setelah dia menjadi khalifah menyuguhkan penyakit-penyakit ulama itu kepada para alim ulama di kala itu, sehingga para Ulama menghadap khalifah untuk menerima harta benda itu di istana, maka beliau tidak ragu-ragu sedikit pun untuk memutuskan hubungannya yang akrab selama ini dengan Harun ar Rasyid.

Demikianlah pada hari perlantikannya Harun ar Rasyid menjadi khalifah, maka sahabat lamanya Sufyan At Thauri pun diundang bersama-sama dengan ulama-ulama yang lain untuk menghadiri upacara perlantikan itu. Tetapi setelah perlantikan akan dimulai, alangkah terkejutnya khalifah, kerana sahabatnya yang paling akrab justeru tidak hadir. Hal itu sungguh menjadi tanda tanya yang tidak sedap dirasakan oleh khalifah. Maka dengan tidak lama antaranya, beliau pun menulis surat kepada sahabat akrabnya itu, Sufyan at Thauri.

Dan surat itu berbunyi seperti di bawah ini :
-------------------
BismiLLahirrahmanirRahim!

Dari hamba ALLah Harun ar Rasyid Amirul Mukminin kepada saudaranya, Sufyan bin Said bin Mundzir. Adapun kemudian daripada itu, wahai Saudaraku! Sebagaimana engkau telah mengetahui bahawa ALLah Tabaroka wa Ta'ala telah mempersaudarakan antara orang-orang beriman, dan ia menjadikan hal yang demikian itu supaya dilakukan pada jalan-Nya dan kerana-Nya belaka. Ketahuilah olehmu bahawa saya telah bersaudara dengan engkau dengan persaudaraan yang erat dan tali persaudaraan itu rasanya tidak akan putus-putusnya.

Dan aku mencintai engkau dengan sepenuh-penuh cinta dan kemahuan yang baik. Kalaulah tidak kerana kalung (jawatan) yang telah dikalungkan oleh ALlah kepadaku, tentulah aku akan datang mengunjungi engkau walaupun aku akan merangkak-rangkak sekalipun, demi cinta yang bersemi dalam kalbuku kepadamu.

Ketahuilah, wahai Abu AbdiLLah bahawa tidak seorang pun di antara kawan-kawanku dan kawan-kawanmu melainkan mereka datang berkunjung kepadaku dan mengucapkan selamat kepadaku dengan jawatan yang telah aku terima itu (khalifah).

Aku telah membukakan bagi mereka beberapa buah Baitul Mal (perbendaharaan Negara) dan aku telah memberikan kepada mereka pemberian-pemberian yang berharga mahal apa yang telah membuat hatiku gembira dan menyejukkan mataku; dan aku menanti-nanti kedatanganmu yang terlambat itu, tetapi sayang engkau tidak juga kunjung datang. Oleh itu aku tulislah surat ini kepadamu kerana sangat rinduku kepadamu, dan engkau tentu telah mengetahui tentang keutamaan orang Mukmin, mengunjunginya dan mengikat tali silaturrahim (hubungan kasih sayang) dengan dia.

Kerana itu, bila kelak suratku ini sampai ke tanganmu, maka bergegaslah, bersegeralah datang!"

_____________
Demikian bunyi surat Harun ar Rasyid yang baru sahaja dilantik menjadi ketua negara itu. Dan setelah surat itu dipersiapkan, maka Harun ar Rasyid menoleh kepada orang yang berada di sampingnya, tetapi mereka kenal kepada kekerasan watak Sufyan at Thauri. Kemudian surat itu diserahkannya kepada salah seorang pengawal beliau yang bernama 'Ubbad at Thaliqany sambil berkata : "Wahai Ubbad. ambil suratku ini dan hantarkan dia ke Kufah, maka apabila engkau telah masuk kota itu tanyakanlah kepada Kabilah Bani Thaur. Kemudian bertanyalah di mana Sufyan at Thauri berada. Maka apabila engkau telah melihatnya berikanlah surat ini kepadanya. Perhatikan benar-benar akan hatimu segala apa yang dikatakannya!"

Begitulah pesuruh khalifah menjalankan tugasnya, dan sampainya di Kufah ia bertanya tentang Sufyan at Thauri, dan seorang menunjukkannya di Masjid. 'Ubbad bercerita, bahawa setelah Sufyan at Thauri melihat kedatangannya, ia pun segera berdiri dan mengucapkan: "A'udzubiLLahis Samiil Alim minasy Syaitanir Rajim wa a'udzubiKa ALlahumma min Tariqin atruqu illa bikhoirin."

Ertinya : "Aku berlindung dengan ALLah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui daripada syaitan yang terkutuk, dan aku berlindung kepada Engkau ya ALlah daripada orang yang datang, kecuali yang datang membawa kebajikan."

"Kata-kata itu terhunjam di jantungku," kata Ubbad, dan aku pun keluarlah." Tatkala aku turun di pintu masjid, beliau pun bangkit untuk mengerjakan sembahyang, padahal waktu itu belum ada masuk waktu sembahyang (fardhu, Pen). Maka aku tambatkanlah kudaku di dekat pintu masjid dan aku pun masuklah ke dalam Masjid. Aku melihat para pengikut beliau duduk bersama menundukkan kepada mereka bagaikan pencuri-pencuri yang di hadapkan kepada Sultan (penguasa, hakim Pen) dalam keadaan ketakutan akan siksaan hukumannya.

Aku mengucapkan salam kepada mereka, tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mengangkatkan kepalanya, dan mereka menjawab salamku dengan hujung-hujung jari mereka sahaja. Aku tetap berdiri kerana tidak seorang pun di antara mereka yang mempersilakan aku duduk.

Kerananya makin tinggilah kegoncangan hatiku kerana melihat kehebatan mereka, dan aku sentiasa menatapkan mataku kepada mereka, dan aku sentiasa menatapkan mataku kepada mereka. Maka aku berbicara pada diriku sendiri bahawa yang sedang sembahyang itu adalah Sufyan.

Maka aku balingkanlah surat kepadanya. Tatkala ia melihat surat itu, badannya bergoncang dan ia menjauhkan diri dari surat itu seolah-olah surat itu seekor ular yang datang kepadanya di mihrabnya. Ia pun rukuk dan sujud dan kemudian memberi salam.

Setelah itu ia masukkan tangannya ke dalam lengan bajunya dan dia lipatkan lengan bajunya dan lalu diambilnya sura itu; dibalik-baliknya dengan tangannya kemudian dibalingkannya kepada orang yang di belakangnya seraya berkata : "Hendaklah surat itu diambil oleh sebahagian kamu yang akan membacanya, kerana aku minta ampun kepada ALLah, bahawa aku janganlah hendaknya menyentuh sesuatu yang telah disentuh oleh tangan orang zalim."

Ubbad berkata :"Surat itu pun diambil oleh sebahagian mereka, maka keadaannya seolah-olah orang yang takut dari patukan mulut ular, kemudian surat itu dibukanya dan lantas dibacanya, sedang Sufyan memperhatikan surat itu sambil tersenyum kehairanan. Tatkala surat itu selesai sibacanya, Sufyan berkata: "Balikkan surat itu dan tulislah di punggung suratnya itu kepada orang Zalim itu!" Ada yang menjawab : "Ya Aba AbdiLlah! Sesungguhnya dia itu adalah khalifah. Apakah tidak baik kalau engkau tulis kepadanya kembali dengan kertas yang bersih?"

Sufyan berkata: "Tulislah kepada orang zalim itu di belakang suratnya itu! Sekiranya surat itu berasal dari barang yang halal, maka dia dapat ganjaran untuk itu. Dan jika ia berasal dari usaha yang haram, maka ia akan disiksa kerananya. Dan tidak ada sesuatu benda yang disentuh oleh orang zalim tinggal pada kita, hal itu tentu akan merosak agama kita."

Kemudian ditanyakan kepadanya : "Apakah yang akan kita tulis? Beliau menjawab :"Tulislah!"
--------------------------
BismiLlahirRahmanirRahim!

Dari hamba ALlah yang pernah berdosa. Sufyan bin Sa'id bin Mundzir As Thauri, kepada hamba ALLah yang tertipu dengan angan-angan, Harun ar Rasyid yang telah mencabut kemanisan Iman.

Kemudian daripada itu, maka sesungguhnya aku telah menulis surat kali ini kepadamu untuk memberitahukan kepadamu, bahawa aku telah memutuskan tali hubungan dengan engkau, aku telah memotong tali cinta engkau dan aku murka dengan tempat kedudukanmu (Khilafah). Kerana engkau telah menjadikan saya sebagai saksi atas pengakuan engkau sendiri atas dirimu seperti tersebut dalam suratmu di mana engkau telah menyerang Baitul Mal kaum Muslimin. Kemudian engkau berikan kepada orang yang bukan berhak menerimanya dan engkau perlakukan harta itu di luar hukum. Kemudian engkau merasa tidak begitu senang terhadap apa yang engkau lakukan. Tersebab engkau telah terjauh daripada aku sehingga engkau menulis surat kepadaku untuk menjadi saksi atas perbuatan diri engkau sendiri.

Adapun aku ini memang telah menjadi saksi atas perbuatan engkau, aku dan begitu juga teman-temanku, iaitu mereka yang telah menyaksikan pembacaan engkau, dan kami akan tampil menjadi saksi atas engkau kelak di hadapan ALlah (subhanahu wa Ta'ala)

Wahai Harun, engkau telah berani menyerang Baitul Mal kaum Muslimin tanpa beroleh kerelaan daripada mereka. Apakah kaum yang masih dibujuk hati mereka rela dengan perbuatanmu itu! Begitu pula para amil yang bekerja mengurus harta itu di bumi ALlah ini, orang yang berjihad Fi sabiliLLah, dan Ibnu Sabil? Apakah rela dengan perbuatanmu itu para pendukung (penghafaz) Al Quran, para sarjana ilmu pengetahuan, kaum janda dan anak yatim?

Apakah rela dengan perbuatanmu itu rakyatmu yang ramai? Maka dari itu pereratlah ikat pinggang engkau dan persiapkanlah jawapan dari pertanyaan dan persiapkan pula untuk penutup bala kelak yang akan menimpa engkau!

Ketahuilah! Bahawa nanti engkau akan berdiri di muka hakim yang Adil, maka sungguh engkau telah mencelakakan dirimu sendiri di kala engkau telah mencabut kemanisan ilmu, zuhud dan kelazatan al Quran serta bergaul dengan orang-orang baik, sebaliknya engkau menyukai dirimu menjadi orang zalim dan menjadi Imam -Pemimpin bagi orang-orang zalim itu.

Wahai Harun! Engkau duduk di atas takhta kerajaan dan engkau memakai sutera, engkau pakaikan tabir di hadapan pintu rumahmu dan engkau mahu menyerupakan diri dengan Tuhan pengatur alam semesta. Dan kemudian engkau dudukkan tentera-tenteramu yang zalim di muka pintu engkau dan pagar engkau. Mereka menganiaya orang ramai, tetapi mereka tidak mempunyai keinsafan. Mereka sendiri meminum-minuman keras (khamar), tetapi mereka memukul barangsiapa yang meminumnya. Mereka sendiri berzina, tetapi mereka menghukum bunuh orang-orang yang berzina. Mereka sendiri mencuri (korupsi), tetapi mereka sendiri memotong tangan pencuri.

Apakah hukum-hukum ini tidak dijalankan dulu pada dirimu dan tentera-tenteramu itu sebelum hukum itu dijalankan kepada orang ramai? Berapakah kelak nasibmu wahai Harun, apabila pemanggil telah berseru kerana perintah ALLah :

"Kumpulkan olehmu orang-orang zalim itu dan para pembelanya? Maka engkau pun tampillah ke hadapan ALlah (Subhanahu wa Ta'ala).. sedangkan kedua-dua tangan engkau terbelenggu ke kudukmu yang tidak ada orang boleh melepaskannya kecuali keadilan engkau dan keinsafan engkau sendiri sejak di dunia ini; dan orang-orang zalim itu berdiri di sekeliling engkau dan engkau mendahului dan menjadi Imam mereka untuk pergi ke neraka.

Seolah-olah aku dengan engkau wahai Harun, engkau telah mencekik leher dan mendatangkan aib. Engkau akan melihat kebaikan-kebajikan engkau dalam neraca timbangan orang lain dan kejahatan-kejatahan orang lain dalam neraca engkau, suatu bencana di atas bencana dan kegelapan di atas kegelapan!

Oleh sebab itu peliharalah wasiatku ini baik-baik dan ambillah pengajaran dengan pengajaran yang telah aku berikan kepadamu ini. Ketahuilah bahawa aku telah memberi nasihat kepada engkau dan tidak satu pun yang ketinggalan dalam nasihat itu untuk mencapai sasarannya.

Dari itu, takutlah kepada ALLah, wahai Harun dalam mengatur rakyatmu! dan peliharalah Nabi Muhammad (SallaLLahu 'alaihi wa sallam) dalam memimpin umatnya dan berbuat kebajikanlah dalam memanfaatkan jawatan khilafahmu untuk kepentingan mereka!.

Ketahuilah olehmu bahawa urusan ini jika tetap ia berada di tangan orang lain nescaya ia tidak akan sampai kepada engkau dan ia akan sentiasa berada di tangan orang lain itu. Begitulah dunia, penduduknya berpindah satu demi satu (ke alam baqa' pen). Maka sebahagian mereka ada yang membawa bekal yang berguna baginya, dan yang lain orang yang merugi dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, jauhkanlah dirimu, sekali lagi jauhkan untuk berkirim surat kepadaku lagi, kerana aku sekali-kali tidak akan membalasnya!.

Wassalam

-------------------------------
Setelah Ubbad sampai kembali di Baghdad ia pun menyampaikan surat balasan tanpa sampul itu kepada Khalifah Harun al Rasyid yang sedang menanti-nantikan balasan sahabatnya, Sufyan At Thauri.

Harun al Rasyid menghadapi surat itu dan membacanya sedemikian rupa sehingga air matanya mengalir dari kedua-dua matanya sambil menarik nafas panjang.

Orang-orang yang di sekitarnya tidak sampai hati melihat khalifah menangis demikian halnya. Sehingga salah seorang di antara mereka berkata dan menyarankan kepada khalifah : "Ya Amirul Mukminin! Sungguh berani benar Sufyan bicara terhadap engkau, kalau sekiranya diizinkan aku berbuat kepadanya. Aku akan pukul dia dengan besi dan aku masukkan ke dalam jel penjara yang sempit agar menjadi iktibar-pengajaran bagi yang lainnya."

Tetapi Harun Al Rasyid menjawab usul orang itu dengan kata-kata:

"Tinggalkanlah kami, wahai hamba dunia yang telah tertipu kerana banyaknya orang yang telah kamu tipu, dan celaka kerana banyaknya orang yang telah kamu celakakan. Sesungguhnya Sufyan adalah satu-satunya, maka biarkanlah Sufyan dalam keadaan yang demikian!".

Begitulah Khalifah Harun al Rasyid memperlakukan surat Sufyan itu, dan surat itu sentiasa diletakkannya di sampingnya yang dibacanya selalu setiap kali mahu mengerjakan sembahyang. Begitulah ia berbuat sampai kepada akhir hayatnya.


Sumber : Detik-detik Terakhir Kehidupan RasuluLLah Dilengkapi dengan Daftar Susunan Seratus Tokoh Yang Berpengaruh Dalam Sejarah Dunia, Karangan K.H Firdaus A.N, Pustaka Ilmu, 1997

Amaran aku ::

Jangan baca saja, faham betul-betul dan amalkanlah. Setelah diberitahu dan dinasihati ambillah pedoman dan jangan abaikan nasihat yang diberi kerana agama itu adalah nasihat. Lagi satu jangan duk layan langsung kisah Harun Ar Rasyid dalam hikayat 1001 Malam... Atau kisah baginda dalam kisah Abu Nawas yang direka oleh orientalis untuk mengkhayalkan dan menenggelamkan watak mulia dalam Islam. Kehinaan terhadap watak mulia seorang Amirul Mukmin yang mentaati Islam apabila diberi teguran. Ini penyakit dalam masyarakat kita. Banyak beriman dengan cerita dongeng, bila datangnya cerita yang benar tiada pula yang ambil peduli.

Selasa, 14 Oktober 2008

NIHAYAT FATAT EL-ISKENDERI -pengakhiran hidup seorang gadis Iskandariah.

                                               (Silalah klik untuk besarkan gambar)

Sesuatu yang cukup menarik dalam majalah Manar Islam, cerita bagaimana seorang gadis Iskandariah yang menaiki mikrobas (bas kecil) atau bas mini untuk menuju ke sebuah destinasi di dalam wilayah Iskandariah, Mesir.

Pakaiannya agak nipis dan seksi sehinggakan hampir terserlah segala yang disembunyikan selama ini bagi seorang perempuan. Umurnya dalam lingkungan 20 tahun. Sebaik sahaja dia melabuhkan punggungnya di tempat duduk di sebelah pintu mikrobas, seorang lelaki tua yang rambutnya telah dipenuhi uban menegurnya “Wahai pemudi, alangkah baiknya jika kamu berpakaian dengan pakaian yang baik, yang sesuai dengan ketimuran dan adat serta agama Islam kamu daripada kamu berpakaian begini yang pastinya menjadi mangsa pandangan
liar lelaki”.

Lalu gadis itu menjawab “siapakah kamu hei orang tua? Apakah di tanganmu ada anak kunci atau sejenis kuasa yang menentukan aku bakal berada di syurga atau neraka?”.

Lalu dia ketawa mengejek panjang lantas cuba memberikan handphonenya kepada si tua itu seraya berkata “ambil handphoneku ini dan hubungilah ALLAH SWT serta tolong tempahkan sebuah bilik di jahannam untukku” lantas ketawa lagi..

Si tua dan penumpang-penumpang bas itu terdiam. mereka tidak menghiraukan lagi karenah gadis yang tidak mengetahui hukum hakam itu. 10 minit kemudian mikrobas sampai ke perhentian, lalu penumpang mula mengejutkan gadis tersebut yang tertidur di muka pintu mikrobas, puas di kejutkan. Tetapi, gadis tersebut tetap tak sedar....

Rupa-rupanya dia telah pulang menemui tuhannya dalam keadaan yang tak disangka-sangka (apalagi dalam keadaan menghina Allah dan agamaNya).
 

Para penumpang hanya menggelengkan kepala sambil beristighfar kepadaNYA.

SubhanaLlah..!!!

Petikan daripada manar Islam Jamad al Awwal.

Sabtu, 27 September 2008

WUDUK ZAHIR BATIN & SOLAT YANG KHUSYU'




Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, sangat warak dan khusyuk solatnya. Namun, dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasainya kurang khusyuk.



Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim al Assam dan bertanya, "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?"

Hatim berkata, "Apabila masuk waktu solat, aku berwudhuk zahir dan batin."
Isam bertanya, "Bagaimana wudhuk zahir dan batin itu?" Hatim berkata,"Wudhuk zahir sebagaimana biasa iaitu membasuh semua anggota wudhuk dengan air.*


Sementara wudhuk batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-


1. Bertaubat
2. Menyesali dosa yang telah dilakukan
3. Tidak tergila-gilakan dunia
4. Tidak mencari/mengharap pujian orang (riya ' )
5. Tinggalkan sifat berbangga
6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. Meninggalkan sifat dengki."

Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku rasakan :


1. aku sedang berhadapan dengan Allah,
2. Syurga di sebelah kananku,
3. Neraka di sebelah kiriku,
4. Malaikat Maut berada di belakangku, dan
5. aku bayangkan pula aku seolah-olah berdiri di atas titian ' Siratal mustaqim '
dan menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhir bagiku,
kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.



Setiap bacaan dan doa di dalam solat, aku faham maknanya kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadhu, aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun".

Apabila Isam mendengar, maka menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

ِAlangkah hebatnya mereka ... inilah solat yang khusyu dan berada dalam makam ihsan. Tiap-tiap ibadat yang dikerjakan kerana didorong oleh perasaan yang sedemikian, pasti ada kesannya kepada tabiat dan budi pekerti kepada yang beribadat itu sendiri. Umpamanya orang yang mendirikan solat kerana kesedarannya akan kebesaran dan kekuasaan Allah, dan didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada-Nya, akan terjauhlah dia dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan apalagi yang dilarang Allah. Dengan demikian solatnya itu akan mencegahnya dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu, sebagaiman firman Allah swt.:

إِنَّ الصّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ

Sesungguhnya solat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (Q.S Al Ankabut: 45)

Begitu juga ibadat puasa. Ibadat ini akan menimbulkan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap golongan fakir dan miskin pada diri orang yang berpuasa itu. Dan seterusnya dengan ibadat-ibadat yang lain.

Tetapi ibadat yang bukan ditimbulkan oleh keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah, dan bukan pula didorong oleh perasaan bersyukur dan berhutang budi kepada Allah itu, atau dalam ertikata lainnya hanya kerana ikut-ikutan atau kerana sekadar memelihara tradisi yang sudah turun-temurun, bukanlah ibadat yang sebenarnya. Walaupun dia mempunyai rupa dan bentuk ibadat yang kelihatan cantik, namun masih tiada jiwa ibadat itu, tidak ubahnya dengan gambar atau patung, bagaimana pun juga miripnya dengan manusia, tidaklah dinamai manusia. Selanjutnya ibadat yang semacam itu tidak ada kesan dan buahnya kepada tabiat dan akhlak orang yang beribadat itu.


-------------------------------------------------------------

*Wudhu Sebagai Penghapus Dosa

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أظْفَارِهِ. رواه مسلم.

Daripada Uthman bin Affan r.h. dia berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: sesiapa yang berwudhuk dan memperelokkan wudhuk akan keluar kesalahan-kesalahannya dari jasadnya sehingga ianya keluar melalui bahagian bawah kuku-kuku jarinya. [Muslim]

Hadis ini menjelaskan bahawa syarat untuk keluarnya segala kesalahan dan dosa dari diri seorang yang berwudhuk itu ialah apabila dia memperelokkan wudhuknya.

Wudhu zahir ini juga adalah isyarat kepada keperluan kita menjaga nikmat yang diberikan oleh Allah supaya tidak dicemari oleh kekotoran akan kelakuan yang buruk yakni dosa yang berpunca dari mata dan mulut, tangan, akal fikiran juga telinga dan kaki. Wallahu a'lam

-----------------------------------------------------------------
Ilmu itu milik Allah, barang siapa menyebarkan ilmu demi kebaikan, InsyaAllah akan digandakan ganjaran kepadanya ... Justeru itu sebarkanlah kisah tauladan kesufian ini kepada sahabat-sahabat semua.. Semoga kita sama-sama menerima manfaat dan redhaNya dunia akhirat.