Memaparkan catatan dengan label Muhasabah Diri. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Muhasabah Diri. Papar semua catatan

Sabtu, 14 Disember 2013

'Taksub Diri Sendiri'

Dalam mempelajari , beramal atau membahaskan sesuatu hukum . Ramai yang akhirnya kecundang dengan ketaksuban diri kerana mempertahankan apa yang diyakini adalah benar. Sedangkan jika perbahasan agama dan perselisihannya dikembalikan kepada Allah dan Rasul maka mana mungkin begitu pengakhirannya ..

Antara perkara yang sering 'TM nasihatkan diri supaya tidak taksub dengan pendirian sendiri adalah "Sangat mudah merasakan apa yang kita faham adalah benar dan perlakuan alim ulama itu salah bilamana kita tidak banyak menghabiskan masa dengan menuntut ilmu al Quran serta tafsirnya , hadis serta syarahnya dan membaca kalam ulama tanpa mendapat kefahaman sebenar dari mereka sendiri atau dari murid-murid mereka yang terpercaya keilmuannya atau dari para ilmuan lain yang memahami prinsip-prinsip dan displin-displin ilmu."

Justeru , sentiasalah kita bersikap terbuka untuk mendengar bicara ilmiah mereka yang berbeza pegangan.
Wallaahu a'lam 


Semoga menjadi manfaat kepada semua ..

Selasa, 19 Jun 2012

Dr Musthofa As Sibaa'ie ; Ulama dan Mujahid Agung Syria



Dr Musthofa As Sibaa'ie dilahirkan di Hims, Suriah, Syria pada tahun 1915 dari keluarga ulama. Ayah dan datuk beliau adalah khatib masjid raya Hims, jabatan khatib tesebut telah dijawat turun temurun semenjak ratusan tahun lamanya. Ayah beliau ; Husni As Sibaa'ie terkenal sebagai seorang mujahid yang amat gigih menentang penjajahan, beliau berjuang dengan harta dan jiwanya dalam menghadapi penjajahan tentera Perancis laknatullah.



Sebagaimana halnya beliaupun adalah merupakan penggagas lembaga-lembaga kebajikan Islam an sosial sehingga hal tersebut cukup mempengaruhi pertumbuhan dan pendidikan putra beliau Musthofa As Sibaa'ie. Kehidupan yang sulit dan keras dalam suasana penjajahan juga mempengaruhi petumbuhan beliau, terutama memupuk sikap patriotik dan perlawanan terhadap penjajah dan antek-anteknya.

Semenjak muda Musthofa As Sibaa'ie selalu menghadiri majlis ilmu ayahnya, dan hal tersebut memupuk kealiman dan kefaqihan beliau dalam menyelesaikan masalah-masalah fiqhiyyah, khususnya fiqih komparatif. Sehingga dalam waktu yang tidak lama beliau terhitung sebagai ulama serta faqih, dan hal itulah yang mendorong beliau untuk terjun langsung dalam medan jihad dan "islah" reformasi serta membenteras bid'ah.

Dr Musthofa As Sibaa'ie menikah di Dimasq, ketika beliau meminang calon istrinya, pihak peminang menginformasikan kepada pihak keluarga wanita bahawa; Mushtofa As Sibaa'ie adalah seorang aktivis da'wah, dan kebanyakan waktunya akan tersita untuk kepentingan da'wah. Hal tersebut diungkapkan agar pihak keluarga wanita memakluminya sebelum pinangan diterima, dan akhirnya keluarga wanita menerima hal tersebut.

Kehidupan As-Sibaa'ie

Masa kanak-kanak dan pertumbuhan beliau di bawah asuhan orang tuanya yang dikenal sebagai ulama Hims, beliau senantiasa menghadiri majlis ilmu ayahnya, bahkan ayahnya selalu mendorong beliau agar mempelajari ilmu Syariah.

As Sibaa'ie ketika muda berbeza dengan pemuda-pemuda lainnya, di usia mudanya dia aktif dengan kegiatan-kegiatan menentang penjajahan. Di usianya seawal 16 tahun (1931), beliau telah menganyam kehidupan kerangkeng untuk pertama kalinya, beliau ditangkap oleh penjajah Perancis karena mengkoordinir kawan-kawannya dalam menyebarkan selebaran yang mengkritik kebijakan penjajahan Perancis.

Musthofa As Sibaa'ie tidak kapok dengan pengalaman pertamanya dijebloskan ke dalam penjara, beliau ditangkap untuk kedua kalinya oleh pihak Perancis karena khutbah jumat beliau di mesjid raya Hims dianggap menggugah ruh jihad dan perjuangan warga Hims melawan penjajah Perancis.Dalam sejarah perlawanannya menentang penjajahan Perancis,perjuangan beliau tidak hanya dengan "kalam" belaka tapi beliau pun memimpin kawan-kawannya mengadakan perlawanan bersenjata menentang Perancis, seperti terjadi pada tahun 1945.

Tahun 1933 Mushthofa As Sibaa'ie melanjutkan pendidikannya di Al Azhar. Sampai di Mesirpun jiwa kepahlawanannya tidak menyusut, bahkan bersama shahabat-sahabat Mesirnya beliau ikut serta berunjuk rasa menentang penjajahan Inggris, demikian halnya ketika sahabat-sahabat Iraknya mengadakan unjuk rasa menentang penjajahan Inggris beliau tidak ketinggalan, sehingga beliau ditangkap oleh pemerintah Inggris saat itu. Tiga bulan beliau meringkuk dalam sel penjara Mesir, Syaikh Azhar saat itu,Musthofa Al Maraghi ikut turun tangan dalam berusaha mengeluarkan As Sibaa'ie dari penjara, tapi kemudian beliau dipindahkan ke penjara Palestina selama empat bulan lamanya, setelah itu beliau dibebaskan dengan jaminan.

Musthofa As Sibaa'ie selanjutnya tidak diperkenankan kembali ke Mesir, padahal beliau sedang mempersiapkan disertasi doktornya. Pemeritah penjajahan Inggris melarang As Sibaa'ie masuk Mesir karena beliau dianggap sebagai pemicu gerakan anti Inggris, bahkan dianggap sebagai biang keladi revolusi bangsa Mesir terhadap Inggeris. Hal tersebut terjadi tahun 1940.

Tahun 1949 As Sibaa'ie baru dapat mengajukan disertasi doktornya yang cukup dikenal di kalangan ulama saat ini "As Sunnah Wa Makanatuha Fi At Tasyri'" (Kedudukan Sunnah dalam Syariah* ) As Sibaa'ie dengan tesisnya tersebut mendapat kelulusan dengan suma cumlaude. Dalam tesisnya tersebut As Sibaa'ie menyanggah habis argumen kaum Orientalis tentang kedudukan AS Sunnah dalam Syariat Islam. Disamping beliaupun menulis buku khusus tentang orientalis dengan judul "Alistisyraq Wal Mustasyriqun" Orientalisme dan kaum Orientalis.
Dalam masa pendidikannya di Al Azhar itulah beliau berhubungan dengan Imam Hasan Al Banna pengasas gerakan Ikhwanul Muslimun. Bahkan hubungan beliau berlanjut sampai setelah kepulangan beliau ke Suriah. Tahun 1942 berdirilah Ikhwanul Muslimun Suriah dibawah pimpinan beliau. Sehubungan dengan pendirian Ikhwanul Muslimun Suriah, Hasan Al Banna mengirim utusan khususnya Dr Said Ramadhan (menantu Hassan Al Banna). Di tahun pertama setelah berdirinya Ikhwanul Muslimun tercatat 100 ribu orang lebih anggota.

Sebelum dibentuknya Ikhwanul Muslimun Suriah, amal da'wah di Suriah digerakkan oleh lembaga-lembaga da'wah yeng kemudian bersatu setelah dibentuknya Ikhwanul Muslimun. Diantara lembaga tersebut adalah; "Jamiyyah Subbanul Muslimin" Damaskus pimpinan Dr Muhammad Mubarak, "Darul Arqom", dan "Jamiyyah Al Ikhwan Muslimun" yang diprakarsai oleh Assyaikh Mahmud Utsman atas usulan Imam Hasan Al Banna.

Jiwa patriotik dan semangat jihad Dr Musthofa As Sibaa'ie menggerakkan beliau untuk membawa pasukan Ikhwanul Muslimun dalam Jihad Palestina 1948 melawan Zionisme Yahudi bersama pasukan Ikhwan Iraq yang dipimpin oleh Muhammad Mahmud Showwaf dan Ikwan Mesir yang dipimpin oleh Abdurahman Al Banna, serta Ikhwan Yordania .

Tapi perjuangan Ikhwan yang dilandasi oleh aqidah dan tanggung jawab atas "Ardul mubarak" di khianati oleh para pemimpin Arab saat itu, bahkan para mujahid Ikhwan Mesir langsung digiring ke penjara sesampainya mereka ke tanah air, yang mereka sisakan diluar tahanan hanya Imam Hasan Al Banna, dan dalam kondisi seperti itulah para musuh Islam menghabisi Asy Syahid Al Imam, dengan harapan besar bahwa dengan dihabisinya Al Imam Syahid punah pulalah gerakan da'wah Ikhwanul Muslimun. "Wamakaru wamakarollah" Mereka berbuat makar dan Allah membalas makar mereka.

Sepulang dari jihad Palestina, As Sibaai' tak menghentikan thabiat jihadnya. Kali ini beliau berjihad dari dalam Suriah sendiri dengan tulisan dan kalamnya, dengan taujih dan tarbiyyahnya kearah islah dan membina generasi mujahid dengan manhaj Islami yang benar, mulai dari pembentukan pribadi yang Islami, keluarga Islami, masyarakat Islami, dan akhirnya berdirinya Daulah Islamiyyah.

Tahun 1950 Beliau termasuk anggota komisi perumus undang-undang. Dengan perjuangannya beliau berhasil memberi warna Islami pada rancangan Undang-undang Suriah dalam pasal-pasal yang sangat esensi, dan berhasil mengikis usaha sekularisasi UU Suriah

Dr Musthofa As Sibaa'ie bersama sahabat-sahabat seperjuangannya berhasil memperjuangkan masuknya pelajaran pendidikan Islam dalam kurikulum pendidikan, disamping itu beliaupun berhasil pula membuka jurusan Syariah di Universitas Suriah (sekarang Universitas Damaskus).

Dr Musthofa As Sibaa'ie pun mengusulkan penyusunan ensiklopedia fiqh, sehingga masalah-masalah fiqhiyyah dapat ditampilkan dalam format baru, di samping menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah kontemporer, dengan berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah serta pendapat-pendapat Salafush-shoolih. Ensiklopedi tersebut sekarang telah digarap oleh para ulama muslim terkenal dari seluruh penjuru dunia, sampai saat ini sudah sampai huruf "qof" dan mencapai 38 jilid dalam format besar.

Dalam dunia Islam Dr Musthofa As Sibaa'ie dikenal sebagai seorang tokoh gerakan Islam yang alim dan faqih. Tahun 1951 beliau sempat menghadiri mu'tamar Islami yang diadakan di Pakistan, dalam kesempatan tersebut beliau sempat bertemu dengan tokoh-tokoh dunia Islam.

Tahun 1952 Dr Musthofa As Sibaa'ie meminta agar pemerintah Suriah mengizinkan beliau dan anggota Ikhwan Suriah keluar dari Suriah untuk turut berjihad bahu-membahu bersama Ikhwan Mesir dalam menghadapi Inggris di Terusan Suez. Rupanya permohonan tersebut berakibat fatal, yang mengakibatkan Ikhwanul Muslimun Suriah dilarang selanjutnya mereka di selkan dan Dr As Sibaa'ie dibuang ke Lebanon setelah sebelumnya dipecat dari Universitas Damaskus. Seperti itulah resiko perjuangan membela kebenaran. Tapi hikmah Allah dibalik semua itu, di Libanon AS Sibaai' justru senantiasa dikerumuni para pemuda, dan itulah cikal bakal gerakan Islam Lebanon "Al Jamaah Al Islamiyyah" yang di dirikan tahun 1964 dan membuahkan dai' muharrik kondang Fathi Yakan.


Tahun 1953 Dr Sibaai' pun sempat menghadiri konfrensi Islam untuk pembelaan Al Quds yang diadakan di kota Al Quds dan dihadiri oleh perwakilan Ikhwanul Muslimun dari seluruh negara Arab dan para tokoh Islam dunia, termasuk saat itu hadir Dr Muhammad Natsir sebagai wakil Indonesia.

Tahun 1954 para pemimpin Ikhwan bertemu di Libanon dalam mu'tamar Islam dan Kristen, hadir dalam mu'tamar tersebut Ustadz Hasan Hudaibi "mursyid" Ikhwanul Muslimun Mesir saat itu, Ustaz Muhammad Mahmud Showwaf pimpinan Ikhwan Iraq, Ustadz Muhammad Abdurahman Khalifaf pimpinan Ikhwan Yordania, Ali Tholibullah mewakilli Sudan, dan Abdul Aziz Mathu' dari Kuwait serta Dr As Sibaa'ie sendiri sebagai pemimpin Ikhwan Suriah.
Sepulangnya Hasan Hudaibi dari Lebanon rezim Jamal Abdul Nasher menjebloskan mursyid Ikhwan kedua Hasan Hudaibi beserta ikhwan lainnya. Ikhwanun Muslimin Arab kemudian membentuk "maktab tanfidhi" yang dipimpin oleh Dr Mushtofa As Sibaa'ie

Pengaruh Dr Musthofa As Sibaa'ie bukan hanya dirasakan oleh para pemuda Suriah, tapi para pemuda Turki yang menuntut ilmu di Suriah merasakan pengaruhnya, mereka senantiasa hadir dalam majlis-majlis As Sibaa'ie, bahkan hubungan mereka terus berlanjut setelah kepulangan mereka ke Turki.

Kiprah da'wah Dr As Sibaa'ie tidak hanya dalam mimbar dan podium, beliaupun berkiprah dalam melahirkan majalah mingguan "As Syihab" bahkan beliau sempat memimpin majalah "AL Muslimun" setelah majalah tersebut ditutup di Mesir, sampai tahun 1958, kemudian penerbitan majalah tersebut berpindah ke Swis seiring dengan hijrahnya Dr Said Ramadhan ke Swis. Bersamaan dengan itu beliaupun menerbitkan majalah bulanan "Al Hadhoroh Al Islamiyyah" sebagai pengganti Al Muslimun.

Sedangkan tulisan beliau yang dibukukan adalah: 1- Syarah Qonun Al Ahwal Ashshakhsiyyah, 3 jilid 2- As Sunnah Wamakanatuha Fi At Tasyri', tesis doktornya (sudah diterjemahkan) 3- Al Marah baina Al Fiqhi Wal Qonun (sudah diterjemahkan) 4- Isytirokiyyah Al Islam (Sudah diterjemahkan) 5-As-Sirah An Nabawiyyah Durusun Wa Ibar, buku yang mengilhami para penulis fiqh sirah (sudah diterjemahkan) Dan banyak lagi karangan beliau yang sarat dengan taujih serta Ilmu.

Aktitas da'wah beliau tak pernah berhenti sampai pada masa sakit beliau yang berkepanjangan, tubuh beliau lumpuh sebelah selama delapan tahun, beliau senantiasa shabar menghadapi ujian tersebut, tak pernah mengeluh, ridho dengan apa yang menimpanya, tahmid, tasbih dan istighfar senantiasa menghiasi bibirnya siang dan malam. Penyakitnya sama sekali bukan suatu penghalang bagi dirinya dalam menyampaikan da'wah.

Dalam salah satu ungkapan As Sibaa'ie kepada sahabatnya, beliau berkata: "Aku dalam keadaan sakit, jelas aku merasakan sakitnya. Dan andapun dapat melihatnya dari roman (riak) wajahku, dan dari tanganku yang tak dapat bergerak. Tapi lihatlah keagungan Hikmah Allah di sebalik semua itu, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa mentakdirkan aku menjadi orang yang lumpuh, dan terbukti sebagian tubuhku lumpuh... Tapi, perhatikan bahagian mana yang lumpuh? Allah telah melumpuhkan bahagian tubuhku sebelah kiri, dan membiarkan bahagian tubuh sebelah kanan tetap bergerak. Betapa Agung Ni'mat Allah yang aku rasakan membiarkan bagian tubuh kananku tetap bergerak. Dapatkah aku tetap menulis kalau Allah mentakdirkan tubuh bagian kananku juga mengalami kelumpuhan? "

Subhanallah, bahkan menurut peraksian shahabat-shahabat seperjuangan beliau, Dr As Sibaa'ie sangat giat dan aktif dalam masa sakitnya. Dr Adib Sholeh sahabat dekat beliau berkata: "Sehari sebelum hari wafatnya, beliau masih sempat menulis tiga tulisan; Al Ulama Al Auliya, Al Ulama Al Mujahidun dan Al Ulama Asy Syuhada".

Betapa jauhnya diri kita dari keteladanan beliau dalam meneladani perjuangan Rasul SAW, betapa jauh perbezaan sikap yang dimiliki oleh beliau dengan kiprah kita dalam da'wah, bahkan terkadang kewajiban diri kitapun masih sering terlupakan, bahkan kita masih banyak kurangnya dari pada lebihnya.

Dr Mushtofa As Sibaa'ie menemui Rabbnya pada hari sabtu, 3/10/1964 di kota kelahirannya Hims setelah melalui perjalanan hidupnya yang penuh dengan perjuangan dan jihad.Jenazahnya dishalatkan di Damaskus di mesjid Al Umawi. Ribuan orang turut menyolati jenazahnya, tak lupa para tokoh gerakan Islam Suriah turut memberi kalimat akhir bagi kepergian Mujahid besar As Sibaai', semisal Dr Muhammad Mubarak, Dr Muhammad Adib Sholeh, Dr Hasan Huwaidi dan tokoh lainnya.
Diantara nasihat beliau dalam buku "Hakadza A'lammatni Al hayaat" adalah Tentang Istiqomah
"Istiqamah suatu jalan yang awalnya penuh dengan Karomah, pertengahannya dipenuhi keselamatan, dan ujungnya adalah surga"

Tentang keberhasilan dalam pertempuran di kancah politik
"Hati yang salim, tangan yang bersih, aqidah yang benar, ahlak yang lurus "istiqomah" ... Tapi tidak cukup hanya sekedar itu dalam menggapai keberhasilan dalam pertempuran di kancah politik, selama tidak memiliki kecemerlangan berfikir, fleksibel dalam amal, semangat yang hangat serta memahami problem masyarakat dan thabiat manusia"

Dalam kesempatan lainnya Dr Mushtofa As Sibaai' mengingatkan kita semua bahwa:
Ada dua macam kecintaan yang tak dapat menyatu
Cinta kepada Allah dan cinta kemaksiatan
Cinta akan (Jihad) dan cinta kehidupan
Cinta terhadap pengorbanan dan cinta akan harta
Cinta akan kebenaran "Al haq" dan cinta akan kepemimpinan
Cinta akan perdamaian dan cinta untuk membalas dendam
Cinta akan perbaikan "ishlah" dan cinta akan keselamatan
Cinta terhadap perjuangan dan cinta untuk hidup santai
Cinta akan keadilan dan cinta akan penghambaan
Cinta terhadap rakyat dan cinta terhadap thogut
Cinta untuk berbuat kebaikan dan cinta untuk berbuat curang

Sumber:
http://tesur.tripod.com/islam/sibaai.html

Sabtu, 17 Mac 2012

Buat Keluarga Syuhada

[Sekadar Gambar Hiasan]
Tersebutlah sudah kisah keluarga syuhada ...

Yasir Bin Amir bin Malik dari Yaman asal usulnya
Tiba di Makkah jejaki saudara bersama 2 temannya
Akhir menetap ia dan Abu Huzaifah jadi sahabatnya
Si jariah Sumaiyah Khubath pula dijadikan isterinya

Hiduplah mereka berdua seadanya dengan bahagia
Dikurnia pula mereka dengan si comel riang ria
Ammar namanya diberi, dimanjai dan dikasihi ia
Masa berlalu, bersualah pula Nabi khatamun anbia

Saat itu, marah musyrikin Makkah tak kepalang lagi
Agama Islam sedayanya dihalang puak Quraisyi
Abu Jahal dialah si ketua petualang para pembenci
Islam yang masih lemah dicaci dihina sesuka hati

Memeluklah mereka akan Islam setelah mentafsir
Segala perintah agama ditunaikan walau secara siir
Nah ! akhir terbocor, dizalimi keluarga ini di padang pasir
Diseksa sekeluarga ini dan salah mereka tiada ditaksir

Dikurung diikat Yasir sekeluarga tanpa dikasihani
Dipukul diseksa lalu diperaga oleh yang berjiwa haiwani
Diheret mereka seperti tiada harga oleh si syaithoni
Walau apa terjadi, mereka bertahan demi Islam diyakini

Suasana pilu menikam jiwa, berita mereka luas tersebar
Doa nabi dan janji Jannah buat keluarga yang penyabar
Semangat membara, segala sedih duka mulalah terbakar
Iman mereka dan kaum muslimin semakinlah berkobar

Derita Sumaiyah yang terus diseksa bukan kepalang,
Akhirnya nyawa melayang, ke hadrat Alllah jua ia pulang
Terukir indah kuntum senyuman - kesakitan menghilang
Tergambarkan nikmat yang mula tiba menjelang datang

Kuffar Quraisy melihat geram dan mula rasa hina terpukul
Sumaiyah gugur dengan senyum manis yang tersimpul
Yasir pula terus dijadikan sasaran dendam si pemukul
Tewaslah jua akhirnya Yasir si suami dan bapa yang unggul

Sedang kuffar celaka berpesta nyawa tanpa sedar balasan
Si anak ; Ammar pula dipaksa melihat segala jenis seksaan
Ditabahkan hatinya utnuk menempuh rintangan dan ujian
Setelah dipaksa dan akhir dituruti.. bebaslah Ammar kemudian

Di sisi Rasulullah yang dikasihi, Ammar lebih teguh tegap berdirii
Semua peperangan sertainya dengan jiwa yang amat berani
Dihunus pedang, perkasa menyerbu ke tengah sambil berlari
Kuffar Harbi mula kecut, menikus dan mula menghilangkan diri

Walau setelah Rasulullah telah dijemput Allah ke Jannati
Ammar tetap terus teguh berjuang untuk Islam dan berbakti
Kemudian memimpin pula ia ummat di Kufah seikhlas hati
Segala hal pentadbiran walau sekecil mana sekali tetap diteliti

Pangkat dan harta dilihat ia sebagai barang buruan yang keji
Beramal dan berkerja ia bukanlah kerana mengharap dipuji
Dusta dan zalim akan segera diperanginya sesungguh hati
Itulah ia AMMAR si pewaris pemilik peribadi-peribadi yg terpuji

Namun sebagaimana dikhabarkan oleh Rasul yang bersabada :
[Mafhum] Bahawa Ammar akan dibunuh oleh para penderhaka
Akhirnya, benarlah di usia 93, gugur syahid ia bagai ibuayahnya
Maka bersamalah ia dalam jannnah dan bersama keluarga tercinta

Walllahu a'lam


Lihat juga : Sumayyah Syahidah Pertama Dalam Sejarah

Sumayyah ; Syahidah Pertama Dalam Sejarah

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, kerana tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah syurga”.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mendoakan keluarga Yasir, “Ya Allah, janganlah Engkau seksa seorang pun dari keluarga Yasir dengan api neraka”.

Keluarga yang agung dan mulia ini menghimpunkan segala sisi keutamaan. Keutamaan-keutamaan ini semerbak harum menebarkan aroma kemuliaan dan ia tersebar dari generasi terawal memeluk Islam sehinggalah ke generasi akhir zaman.

Pemimpin keluarga ini, Yasir bin Amir bin Malik berasal dari Yaman. Beliau datang ke Mekah bersama-sama Al-Harits dan Malik dalam rangka menjejaki saudaranya. Mereka berdua kembali ke Yaman, sebaliknya Yassir terus menetap di Mekah. Beliau kemudiannya menjalin persahabatan dengan Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah bin Abdullah Al-Makhzumy, yang kemudiannya menikahkannya dengan seorang hamba wanita, Sumayyah bintu Khubath, lalu melahirkan seorang anak lelaki, bernama Ammar. Abu Hudzaifah kemudiannya memerdekakan Sumayyah manakala Yasir dan Ammar tetap bersama-sama dengan Abu Hudzaifah sehingga meninggal dunia.

Sumayyah bintu Khubath, nama yang tidak pernah dikenali di seluruh pelosok Mekah sebelum Islam hadir memancarkan sinarnya di Ummul Qura. Beliau seorang wanita yang bersosok besar, usianya telah memasuki usia senja. Namun, beliau memiliki akal yang jernih, dan jiwanya memancarkan keikhlasan, bara dan semangat!. Tidak berapa lama selepas Rasulullah memulakan dakwah baginda, keluarga Yasir muncul sebagai di antara manusia terawal mengimani risalah Islam dan membenarkan kerasulan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Keimanannya yang mendalam terhadap Allah menjadikan dirinya sebagai pelopor wanita-wanita yang sabar dan tegar mempertahankan akidah. Bahkan beliaulah adalah orang ketujuh yang masuk Islam dan di antara orang terawal yang menampakkan keislamannya. Hal ini disebutkan oleh Al-Imam Adz-Dzahaby Rahimahullah di dalam bukunya, Siyar A’lamin-Nubala’ menerusi riwayat Abdullah bin Mas’ud Radiallahu Anhu,

“ Yang pertama sekali menampakkan keIslaman mereka secara terang-terangan ada tujuh orang; Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakar, Ammar, ibunya Sumayyah, Shuhaib, Bilal dan Al-Miqdad. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mendapat perlindungan dari bapa saudarany (Abu Talib). Abu Bakar mendapat perlindungan kaumnya. Yang lain-lain pula mengalami penyeksaan yang keras dari orang-orang musyrik, dikenakan baju besi lalu ditelantarkan di bawah terik matahari. Tidak seorang pun dari mereka kecuali harus memenuhi apa yang mereka inginkan, kecuali Bilal. Dia tidak peduli apa yang menimpa dirinya kerana Allah. Dia juga tidak peduli kepada kaumnya. Ketika dia diseksa, kanak-kanak kecil ikut sama mengerumuninya, dan dia hanya mampu mengucapkan, ‘Ahad, ahad, ahad”.

Keluarga Sumayyah turut sama berada di barisan hadapan. Kemarahan kaum Quraisy benar-benar memuncak. Hampir setiap nafas mereka adalah hembusan kebencian kepada orang-orang yang mengucapkan “Rabb kami adalah Allah”. Penyeksaan-penyeksaan tidak pernah menjadikan kaum Muslimin berundur, malah mereka tetap istiqamah dan terus mengikuti Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Sementara itu, baginda hanya mampu meniupkan kata-kata semangat dan motivasi keimanan kepada keluarga Sumayyah kerana tiada seorangpun yang mampu memberikan jaminan kepada keluarga tersebut. Keluarga itu menerima pelbagai jenis penyeksaan dari orang-orang musyrik yang terbakar oleh api dendam dan kebencian terhadap dakwah Islam. Mereka memuaskan keinginan yang gila dengan menyeksa Sumayyah dan keluarganya.  Ibnu Atsir Rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya, Usdul Ghabah, tentang seksaan yang dialami oleh Sumayyah dengan berkata, “Dia termasuk orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan dia juga termasuk di kalangan orang-orang yang mendapat seksaan yang keras kerana Allah”.

KELUARGA YANG SABAR
Tiada yang mampu dilakukan manusia kecuali terkagum terhadap keluarga Yasir, sebuah keluarga yang mulia, yang diberi kemudahan, dan yang mampu menggegarkan para pemimpin kaum musyrikin Mekah. Mereka yang sebelumnya dikenali sebagai orang-orang yang lemah lembut, tidak lagi mempunyai sifat itu tatkala berhadapan dengan kaum kafir yang cuba mengoyakkan keimanan mereka. Bahkan kaum musyrikin hampir hilang akal kerana rasa marah ketika melihat keluarga ini semakin tenang dan mantap, tidak gerun terhadap seksaan, tidak beranjak sedikit pun dari akidah mereka, malah tidak surut kesabaran mereka ketika dijemur di bawah terik matahari dalam keadaan kehausan. Ketegaran keluarga ini membuatkan kaum musyrikin kehairanan, bingung dan semakin berang. Mereka mengheret Ammar bersama kedua ibubapanya ke tengah-tengah padang pasir yang panas sepanasnya, agar mereka keluar dari Islam. Ironinya, keluarga sabar ini sentiasa bertambah keimanan mereka seiring dengan semakin pedihnya seksaan. Mereka semakin pasrah, terutamanya setelah mereka mendengarkan doa memohon pengampunan bagi diri mereka oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Salim Abul-Ja’d meriwayatkan, beliau berkata, “Utsman memanggil beberapa sahabat Rasulullah, di antaranya terdapat Ammar bin Yasir. Ustman berkata, ‘Aku akan menyampaikan kepada kalian hadis tentang Ammar. Aku bersama Rasulullah pergi ke Al-Bathha’ sehingga kami menemui Ammar berserta ibubapanya ketika kaum musyrikin menyeksa mereka. Yasir berkata kepada Rasulullah, “Apakah selamanya aku akan begini?”. Baginda bersabda, “Bersabarlah!”. Kemudian baginda bersabda, “Ya Allah, berilah ampunan kepada keluarga Yasir, kerana Engkau telah berbuat apa yang Engkau Perbuat” . [Ditakhrij oleh Ahmad]

PENENTANGAN SUMAYYAH
Kaum musyrikin Quraisy hampir tidak pernah menghentikan seksaan terhadap Sumayyah dan keluarganya. Selepas suaminya meninggal dunia akibat penyeksaan, Sumayyah semakin menentang dan memberikan reaksi keras terhadap Bani Al-Mughirah bin Abdullah bin Makhzum, yang dipelopori oleh Abu Jahal. Dia layaknya orang yang tidak waras dan tidak berperasaan ketika berhadapan dengan  ketegaran Sumayyah mempertahankan akidahnya. Baginya, kedegilan Sumayyah ialah perlecehan terhadap dirinya. Sumayyah telah berjaya mencarik-carik kebesaran nama Abu Jahal di kalangan kaum musyrikin kerana kesabarannya terhadap kerasnya seksaan. Hati Abu Jahal hampir saja meledak kerana Sumayyah tidak mahu memperolok-olokkan dan mengeji nama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, walau dengan hanya satu kata seperti yang dipaksakan Abu Jahal kepadanya.

Abu Jahal (semoga Allah menghinakannya), tidak membiarkan satu pun sarana untuk menghalangi manusia dari jalan Allah, melainkan dia akan menggunakannya. Dia tidak mendapatkan satu jalan pun untuk menekan orang-orang Mukmin, melainkan dia akan melaluinya. Ibnu Ishaq Rahimahullah, menyampaikan satu gambaran yang jelas tentang hal ini, dengan berkata,

“ Abu Jahal, orang jahat yang terperdaya di tengah-tengah kaum Quraisy, jika mendengar berita seseorang masuk Islam, dan orang itu adalah orang yang terpandang dan mendapat jaminan perlindungan,maka dia hanya akan mengingatkannya dan menegurnya dengan berkata, ‘Kau tinggalkan agama bapamu, padahal bapa-bapamu adalah lebih baik darimu. Kami benar-benar akan mengalahkan pendapatmu dan benar-benar akan menghinakan kehormatanmu.’

Jika yang dihadapinya adalah seorang pedagang, maka dia akan berkata 'Demi Tuhan, kami benar-benar akan membuatkan kamu rugi dalam perniagaanmu, dan kami benar-benar akan menghancurkan harta bendamu'. Jika yang dihadapinya adalah orang yang lemah, maka dia akan memukul dan menyeksanya semahu-mahunya. Semoga Allah melaknat dan memburukkannya”

SYAHIDAH PERTAMA
Sumayyah Radiallahu Anha adalah wanita pertama yang menampakkan keIslamannya, di samping menjadi syahid pertama yang mengorbankan dirinya di jalan Allah. Dalam peristiwa kesyahidannya itu, terkandung pelajaran-pelajaran berharga bagi sesiapa yang memiliki hati atau mempunyai pendengaran. Beliau menjadi sosok syahid yang sebenarnya dan mempamerkan hakikat sabar kepada para generasi seterusnya.

Setelah suaminya, Yasir meninggal dunia kerana penyeksaan yang sangat berat, Sumayyah Radiallahu Anha diserahkan pula oleh Abu Hudzaifah kepada Abu Jahal, sehingga si jahat itu dapat menyeksa dengan segala cara yang diinginkannya disamping mengejek-ejek diri Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dengan sejuta sumpah seranah dan umpat keji. Suatu petang, Abu Jahal bersikap keras kepada Sumyyah, kemudian berkata kepadanya, “Engkau tidak beriman kepada Muhammad melainkan kerana engkau tergila-gila kepada ketampanannya”.

Apa pula reaksi Sumayyah? Beliau memberikan jawapan yang tidak kalah kerasnya, lantaran kemarahannya yang tidak tertahan dengan tuduhan Abu Jahal itu. Keangkuhan Abu Jahal terbukti apabila beliau menikamkan tombak ke tubuh Sumayyah sehingga menyebabkan Sumayyah meninggal dunia sebagai syahid, rohnya naik kepada Penciptanya dalam keadaan redha dan diredhai, kerana telah memberikan kesaksian tidak berbelahbagi bahawa tiada Ilah selain Allah, dan bahawa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah.

Mujahid Rahimahullah berkata, “Syahid yang pertama di dalam Islam ialah ibu Ammar, Sumayyah yang ditikam Abu Jahal dengan menggunakan tombak, tepat di ulu hatinya” .(Al-Bidayah Wan-Nihayah, 3/59)

Ibnul Jauzy Rahimahullah berkata,” Dia adalah syahid pertama di dalam Islam. Semoga Allah redha kepadanya sebagaimana Allah membuatkannya redha”.

IBNU SUMAYYAH
Sumayyah, nama ini dan sahabiyah ini tetap hidup abadi menebarkan keharuman setelah mati syahid dan beruntung telah meraih keredhaan Allah. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam terbiasa memanggil anaknya Ammar, dengan sebutan “Ibnu Sumayyah”. Maka, tidak dapat lagi dimungkiri bahawa panggilan yang diberkahi ini merupakan penghormatan terhadap sahabiyah yang sabar dan baik ini. Panggilan itulah yang lebih sering meluncur dari lisan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang mulia.

Abdullah bin Mas’ud Radiallahu Anhu pernah berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ‘Jika manusia saling berselisih, maka Ibnu Sumayyah berada pada kebenaran”. (Kisah ini disebutkan di dalam Siyar A’lamin-Nubala, 1/415-416; Tarikhul Islam, Adz-Zahaby, 3/575)

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam juga sering menyebutkan nama Sumayyah dengan keutamaan dan kebaikan. Sewaktu Perang Badar, baginda menyampaikan khabar gembira bagi “orang baik yang mendapat kebaikan”. (Julukan untuk Ammar, kerana Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda kepadanya, ‘Selamat datang wahai orang baik yang mendapat kebaikan’). Di dalamnya disebutkan juga nama Sumayyah. Peristiwa ini dikisahkan ketika musuh Allah, Abu Jahal terbunuh di dalam Perang Badar. Ketika itu Rasulullah menggembirakan Ammar dengan berkata “Allah telah membunuh orang yang membunuh ibumu”.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam juga pernah mendoakan untuk Sumayyah dan keluarganya dengan doa yang diberkahi ketika Ammar mendatangi Rasulullah mengadu seksaan yang dihadapi oleh ibubapanya termasuk dirinya sendiri. Beliau berkata, “Wahai Rasulullah, kami mendapatkan seksaan yang sangat keras”. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Bersabarlah wahai Abul Yaqzhan (julukan lain bagi Ammar). Ya Allah, janganlah Engkau seksa seorang pun dari keluarga Yasir dengan api neraka” (Al-Isti’ab, 4/325; As-Sirah Al-Halabiyah, 1/484)

NISA’ MUBASSYARAT BIL JANNAH!
Inilah kisah sahabiyah yang sabar, yang disajikan sirahnya sebagai wanita yang teguh hati pada kebenaran dan keimanan, sehingga menjadi pelopor di dalam perjuangan Islam sepanjang zaman. Ibnu Abdil-Barr Rahimahullah memuji Sumayyah dengan berkata, “Dia termasuklah orang yang diseksa kerana Allah, dan sabar di dalam menghadapi seksaan. Dia termasuklah wanita yang berbaiat, baik dan terutama” (Al-Isti’ab, 4/324)

Semoga Allah merahmati Sumayyah ibu Ammar, wanita dan orang pertama yang mati syahid di dalam Islam, ibu orang yang pertama membangun masjid dan digunakan untuk solat. Kesejahteraan bagi keluarga Yasir, kesejahteraan ke atas kalian kerana kesabaran kalian dan sesungguhnya kalian akan mendapat balasan yang sebaik-baiknya.

“Terimalah khabar yang baik wahai keluarga Ammar, kerana tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah syurga” (Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang disampaikan oleh Ustman Al-Affan. Dipetik dari Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/249; Majma’ Az-Zawaid, 9/293; Tarikhul Islam Adz-Zahaby, 3/572)

Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Allah telah memberi dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang kerana Allah, lalu mereka membunuh dan terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam kitab Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (At-Taubah: 111)

Sumayyah bintu Khubath Radiallahu Anha termasuk sejumlah wanita yang terawal menerima Islam dan bersegera memenuhi janji Allah serta membenarkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kaum Muslimin, sehingga beliau berhak mendapat khabar gembira sebagai orang yang dijanjikan syurga. Bagaimana pula dengan kita sebagai kaum muslimah akhir zaman? Semoga kisah ini menjadi obor penyuluh dan menyemarakkan lagi semangat kita dalam mendakwahkan agama Allah ini sehingga tiba janji Allah yang seterusnya, "akan berdiri semula kekhilafahan di atas manhaj kenabian" [HR Ahmad]

Sabtu, 25 Februari 2012

Kefahaman Dan Pengertian Tasyabbuh

بســم الله الـرحمــن الـرحـــيم
Segala puja-pujian hanya milik Allaah, Rabb sekalian alam. Salam dan Selawat ke atas Rasulullah dan keluarga serta para sahabat baginda, tabien dan seterusnya ke atas sekalian orang yang berusaha untuk mengikuti dan mempratikkan segala ajaran serta menjauhi segala larangan baginda.
Ya Allaah, sesungguhnya kami memohon kepada-MU dengan menyaksikan bahawa Engkau adalah Allaah, tiada Tuhan selain Engkau Yang Maha Esa dan Yang Menjadi Tumpuan sekalian makhluk untuk memohon sebarang hajat serta Yang Tidak Melahirkan Dan Tidak Pula Dilahirkan, dan tidak ada sesiapapun yang setanding-MU.
Tasyabbuh secara umumnya adalah menyerupai atau meniru.

Untuk mendapat pengertian dan penjelasan yang lebih, sayugia kita memahami apa yang disyarahkankan buat kita berdasarkan hadis tasyabbuh oleh as Sheikh Maulawi Ali bin Sultan Muhammad al Qari di dalam kitab beliau; dengan cara terjemahan saya yang hanya sekadar mampu . Semoga kita sama-sama beroleh manfaat daripadanya, InsyaAllah.

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم : " من تشبه بقوم فهو منهم "
رواه أحمد ، وأبو داود .

Rasulullah SAW bersaba : Barangsiapa yang menyerupai sesuatu kaum maka dia adalah daripada kalangan mereka.
[HR Imam Ahmad dan Abu Daud]

4347 - ( وعنه ) : أي عن ابن عمر ( قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -  .
4347 - (dan daripadanya) : yakni daripada Ibnu Umar (telah berkata dia : telah bersabdalah Rasulullah SAW) :

 ( من تشبه بقوم ) : أي من شبه نفسه بالكفار مثلا في اللباس وغيره ، أو بالفساق أو الفجار أو بأهل التصوف والصلحاء الأبرار .

"Barangsiapa yang menyerupai sesuatu kaum" ialah (bermaksud) siapa yang menyamakan dirinya dengan al kufar, contoh : dalam hal berpakaian dan selainnya, atau menyerupai akan dirinya dengan yang tidak bermoral (fasiq) atau yang berdosa / jahat (fajir), atau -menyerupai ahli Tasauf dan yang soleh al abrar.

( فهو منهم ) : أي في الإثم والخير

"Maka dia adalah daripada kalangan mereka"  : ialah (bermaksud) dalam hal samaada dosa dan kebaikan.

 قال الطيبي : هذا عام في الخلق والخلق والشعار ، ولما كان الشعار أظهر في التشبه ذكر في هذا الباب .  ) .
Telah berkata at - Tiibii : Dalam hal ini secara umumnya, adalah -menyerupai itu- pada fizikal, akhlak dan syiar (perlambangan/pakaian), bertasyabbuh pada pakaian itu lebih nyata sebagaimana disebut dalam bab ini.

قلت : بل الشعار هو المراد بالتشبه لا غير ، فإن الخلق الصوري لا يتصور فيه التشبه ، والخلق المعنوي لا يقال فيه التشبه ، بل هو التخلق ،

Aku berkata (pengarang): Bahkan pakaianlah yang dikehendaki dengan tasyabbuh (menyerupai) bukan selainnya. Kerana sesungguhnya bentuk fizikal tidak dapat digambarkan dengan tasyabbuh dan begitu juga dengan akhlak yang maknawi tidaklah disebut sebagai tasyabbuh, bahkan -kerana- ia disebut sebagai takhalluq (berakhlaq).

هذا وقد حكى حكاية غريبة ولطيفة عجيبة ، وهي أنه لما أغرق الله - سبحانه - فرعون وآله لم يغرق مسخرته الذي كان يحاكي سيدنا موسى - عليه الصلاة والسلام - في لبسه وكلامه ومقالاته ، فيضحك فرعون وقومه من حركاته وسكناته ;

Sesungguhnya inilah kisah sebuah hikayat yang pelik, halus lagi ajaib - Bahawasanya bila mana Allah menenggelamkan Firaun dan gerombolannya, tidak pula -Allah- menenggelamkan seorang tukang ejek (pelawak) Firaun, sedangkan dia berkelakuan meniru syaidunaa Musa dalam kelakunya samaada pada pakaian, perkataan dan percakapannya. Di mana gerak geri dan diamnya sekalipun akan ditertawakan oleh Firaun dan pengikutnya.

فتضرع موسى إلى ربه : يا رب ! هذا كان يؤذي أكثر من بقية آل فرعون ،

 Lantas Nabi Musa bertadharru' kepada Tuhannya "Wahai Tuhanku, lelaki ini adalah lebih menyakitiku berbanding pengikut Firaun yang lain" .

فقال الرب تعالى : ما أغرقناه ; فإنه كان لابسا مثل لباسك ، والحبيب لا يعذب من كان على صورة الحبيب ،

Maka Allah berfirman "Tiadalah Aku menenggelamkannya, maka sesungguhnya dia adalah berpakaian sepertimana pakaianmu. Dan kekasih itu tidak akan mengazab siapa yang menyerupai kekasih".

فانظر من كان متشبها بأهل الحق على قصد الباطل حصل له نجاة صورية ، وربما أدت إلى النجاة المعنوية ، فكيف بمن يتشبه بأنبيائه وأوليائه على قصد التشرف والتعظيم ، وغرض المشابهة الصورية على وجه التكريم ؟ ، وقد بسط أنواع التشبه بالمعارف في ترجمة عوارف المعارف .

Maka perhatikanlah, barangsiapa yang menyerupai ahli haq -walaupun- atas tujuan yang batil - masih menghasil baginya suatu pelepasan -azab- yang bersifat zahir dan mungkin membawa kepada pelepasan yang maknawi. Maka -bayangkanlah pula- bagaimana pula -yang terhasil- pada sesiapa yang bertasyabbuh (menyerupai / meniru) para Anbiya' dan auliya' di atas tujuan memulia dan meninggikannya - yakni bagi maksud menyerupai perwatakan yang bermaruah (terhormat) ? Selanjutnya bolehlah bertasyabbuh (meniru) ilmu pengetahuan dalam kearifan-kearifan ilmu pengetahuan.

(     رواه أحمد ، وأبو داود
[ -Syarah- HR Imam Ahmad dan Abu Daud ]

Sila rujuk :
Syarah-syarah hadis,
Mirqaatul Mafatih Syarah  Misykaat al Masyobih
Ali bin  Sultan Muhammad Al Qari   
دار الفكر
سنة النشر: 1422هـ / 2002م
رقم الطبعة: ---
عدد الأجزاء: تسعة أجزاء
رقم س- ج : 4347

Rabu, 9 November 2011

Berbantah-bantahan Adalah Antara Punca Kemunduran Dan Kehinaan Yang Menimpa Ummat Islam

Kemunduran dan kehinaan yang menimpa ummat Islam kini adalah disebabkan oleh beberapa faktor yang mana semuanya ada diterangkan di dalam Al Quran dan hadith-hadith. Di antaranya ialah firman  Allah :

Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati); sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(Al Anfaal :46)

Punca-punca perselisihan atau sikap berbantah-bantahan pula ialah :

1.      Firman Allah :

Dan di antara orang-orang yang berkata:" Bahawa kami ini orang-orang Nasrani", Kami juga telah mengambil perjanjian setia mereka, maka mereka juga melupakan (meninggalkan) sebahagian dari apa yang diperingatkan mereka dengannya, lalu Kami tanamkan perasaan permusuhan dan kebencian di antara mereka, sampai ke hari kiamat; dan Allah akan memberitahu mereka dengan apa yang telah mereka kerjakan.
(Al Maa’idah : 14)

2.       Firman Allah :

Dan umat tiap-tiap Rasul tidak berpecah belah dan berselisihan (dalam menjalankan ugama Allah) melainkan setelah sampai kepada mereka ajaran-ajaran (pengetahuan) yang memberi mereka mengetahui (apa yang disuruh dan apa yang dilarang); berlakunya (perselisihan yang demikian) semata-mata kerana hasad dengki sesama sendiri. dan kalaulah tidak kerana telah terdahulu kalimah ketetapan dari Tuhanmu (untuk menangguhkan hukuman) hingga ke suatu masa yang tertentu, tentulah dijatuhkan hukuman azab dengan serta-merta kepada mereka. dan sesungguhnya orang-orang yang diberikan Allah mewarisi Kitab ugama kemudian daripada mereka, berada dalam keadaan syak yang menggelisahkan terhadap Kitab itu.
(As Syuraa : 14)

3.      Sabda Baginda SAW :

Apabila kamu berjual beli dengan al ‘ainah dan kamu mengikut pemerintah-penerintah yang zalim dan kamu asyik dengan ladang-ladang kamu dan kamu meninggalkan jihad kamu, nescaya Allah akan menimpakan ke atas kamu kehinaan yang tidak akan terhapus sehinggalah kamu kembali kepada ajaran agama kamu.[1]

4.      Firman Allah :

Kemudian kamu ini (Wahai Bani Israil), kamu berbunuh-bunuhan sesama sendiri dan kamu usir satu puak dari kaum kamu keluar dari kampungnya; kamu pula saling bantu-membantu (dengan orang lain) untuk menentang mereka dengan melakukan dosa dan penganiayaan; padahal kalau mereka datang kepada kamu sebagai orang tawanan, kamu tebus mereka; sedang perbuatan mengusir mereka diharamkan juga atas kamu. sesudah itu maka patutkah kamu hanya percaya kepada sebahagian (dari isi) Kitab Taurat dan mengingkari akan sebahagian yang lain? maka tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian itu dari antara kamu, selain dari kehinaan ketika hidup di dunia, dan pada hari kiamat akan ditolak mereka ke dalam azab seksa yang amat berat. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan apa yang kamu lakukan.
(Al Baqaarah : 85)

5.      Sabda Rasulullah SAW :
يوشك أن تدعي عليكم الأمم كما تداعي الأكلة الى قصعتها. فقال قائل : أو من قلة يومئذ؟ قال : بل أنتم يومئذ كثير، ولكنكم غثاء كغثاء السيل. ولينز عن الله من صدور عدوكم المهابة منكم وليقذفن في قلوبكم الوهن. قال قائل :يا رسول الله وما الوهن؟ قال : حب الدنيا وكراهية الموت.
Akan tiba saatnya di mana kamu akan dikerumuni (diserbu) oleh umat-umat lain (musuh-musuh dari pelbagai sudut) sebagaimana orang-orang yang sedang makan menghadapi hidangannya. Bertanya salah seorang daripada mereka : Adakah kerana bilangan kami pada masa itu sedikit wahai Rasulullah? Jawab Baginda : Bahkan kamu pada hari itu banyak. Tetapi kamu adalah kosong dan hanyut seperti buih-buih. Dan Allah akan mencabut daripada musuh-musuh kamu perasaan gerun terhadap kamu, dan Dia menanam (mencampakkan) pula ke dalam hati-hati kamu –penyakit- al-wahn. Bertanya salah seorang daripada mereka : wahai Rasulullah apakah al wahn itu? Jawab Baginda : Cintakan dunia dan bencikan mati. [2]

Justeru itu ketahuilah jama’ah yang diwajibkan setiap Muslim memberikan bai’ahnya ialah jama’ah yang berusaha membebaskan umat Islam daripada seluruh penyakit yang membawa kepada kehinaannya sehingga umat Islam diumpamakan kosong dan hanyut seperti buih-buih. Antara penyakit tersebut ialah al wahan sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadith di atas.

[1] Hadith Riwayat

[2] Hadith yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud dari Tsauban

Jumaat, 28 Oktober 2011

BERBANTAHAN DAN DEBAT YANG MERUGIKAN : Peringatan Para Ulama Salaf Terhadapnya.

Di sunting oleh :: Ustazthrash Mujahid

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasihani..
Sama-samalah kita merenung dan memuhasabah diri, siapakah diri kita dalam masalah yang dibicarakan ini. Setiap kata dan kalimat yang terbit hendaklah diambil kira.

Semoga usaha ini dapat membina sakhsiyah Islam, InsyaAllah..

1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putera baginda :
“Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat kerana ragu-ragu dan menentang) itu, kerana manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” 
[Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897]

2. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :
“Cukuplah engkau sebagai orang zalim bila engkau selalu berdebat. Dan cukuplah dosamu jika kamu selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu berbicara dengan selain  zikir kepada Allah.” 
[al-Fakihi dalam Akhbar Makkah]

Sementara ad-Darimi meriwayatkan bahwa Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu berbicara bukan dalam zikir tentang Allah.” 
[Darimi: 299]

3. Muslim Ibn Yasar rahimahullah
Musim ibn Yasar rahimahullah berkata :
“Jauhilah perdebatan, kerana ia adalah saat bodohnya seorang alim, (sedangkan) di dalamnya syaitan menginginkan ketergelincirannya (yakni menjadi sesat).” 
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi: 404]

4. Hasan Bashri rahimahullah
Ada orang datang kepada Hasan Bashri rahimahullah lalu berkata, “Wahai Abu Sa’id kemarilah, agar aku boleh mendebatmu dalam agama!” Maka Hasan Bashri rahimahullah berkata:
“Adapun aku maka aku telah memahami agamaku, jika engkau telah menyesatkan (menyia-nyiakan) agamamu maka carilah.” 
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 588]

5. Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah
Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah berkata :
“Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka ia akan banyak berpindah-pindah (agama).” 
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565]

Penyunting : untuk memahami lafaz 'berpindah-pindah agama' lihatlah pada ucapan Imam Malik rhm menjawab Abu al Juwairah yang mengajak beliau berdebat pada no15.

6. Abdul Karim al-Jazari rahimahulah
Abdul Karim al-Jazari rahimahulah berkata :
“Seorang yang wira’ie* tidak akan pernah mendebat sama sekali.” 
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 636; Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

*Wira’ie artinya orang yang sangat menjaga diri dari hal-hal yang syubhat dan membatasi diri dari yang mubah.

7. Ja’far ibn Muhammad rahimahullah
Ja’far ibn Muhammad rahimahullah berkata :
“Jauhilah oleh kalian pertengkaran dalam agama, kerana ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan mewariskan kemunafikan.” 
[Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

8. Mu’awwiyah ibn Qurrah rahimahullah
Mu’awwiyah ibn Qurrah rahimahullah berkata :
“Dulu dikatakan: pertikaian dalam agama itu melebur amal.” 
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 562]

9. al Auza’i rahimahullah
al Auza’i rahimahullah berkata :
“Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.” 
[Siyar al-A’lam 16/104; Tadzkiratul Huffazh: 3/924; Tarikh Dimsyq: 35/202]

10. Imran al-Qashir rahimahullah
Imran al-Qashir rahimahullah berkata :
“Jauhi oleh kalian perdebatan dan permusuhan, jauhi oleh kalian orang-orang yang mengatakan: Bagaimana menurutmu, bagaimana pendapatmu.” 
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 639]

Penyunting : Bertanya dengan tujuan mengumpan seseorang kepada perdebatan.

11. Muhammad ibn Ali ibn Husain rahimahullah
Muhammad ibn Ali ibn Husain rahimahullah berkata :
“Pertikaian itu menghapuskan agama dan menumbuhkan permusuhan di hati orang-orang.” 
[al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

12. Abdullah ibn Hasan ibn Husain rahimahullah
Abdullah ibn Hasan ibn Husain rahimahullah berkata:
Dikatakan kepada Abdullah ibn al Hasan ibn al Husain rahimahullah, “Apa pendapatmu  tentang perdebatan (mira’)?”
Dia menjawab: “Merosak persahabatan yang lama dan mengurai ikatan yang kuat. Minimal ia akan menjadi sarana untuk menang-menangan itu adalah sebab pemutus talit silaturrahim yang paling kuat.” 
[Tarikh Dimasyq: 27-380]

13. Bilal ibn Sa’d rahimahullah
(kedudukannya di Syam sama dengan Hasan Bashri di Bashrah)
Bilal ibn Sa’d rahimahullah berkata:
“Jika kamu melihat seseorang terus-terusan menentang dan mendebat maka sempurnalah kerugiannya.” 
[al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

14. Wahab ibnu Munabbih rahimahullah
Wahab ibnu Munabbih rahimahullah berkata:
“Tinggalkanlah jidal dari perkaramu, kerana ia tidak akan dapat mengalahkan salah satu dari dua orang: seseorang yang lebih alim darimu, bagaimana engkau memusuhi dan mendebat orang yang lebih alim darimu? Dan orang yang engkau lebih alim daripadanya, bagaimana engkau memusuhi orang yang engkau lebih alim daripadanya dan ia tidak mentaatimu? Maka tinggalkanlah itu.” [Tahdzibul Kamal: 31/148; Siyarul A’lam: 4/549; Tarikh Dimasyq: 63/388]

15. Malik ibnu Anas rahimahullah
Ma’n rahimahullah berkata: “Pada suatu hari Imam Malik ibn Anas berangkat ke masjid sambil berpegangan pada tangan saya, lalu beliau dikejar oleh seseorang yang dipanggil dengan Abu al-Juwairah yang dituduh memiliki Aqidah Murji’ah. Dia berkata: “Wahai Abu Abdillah dengarkanlah dariku sesuatu yang ingin saya kabarkan kepada anda, saya ingin mendebat anda dan memberi tahu anda tentang pendapatku.’
Imam Malik berkata, “Hati-hati, jangan sampai aku bersaksi atasmu.” Dia berkata, “Demi Allah, saya tidak menginginkan kecuali kebenaran. Dengarlah, jika memang benar maka ucapkan.” Imam Malik bertanya, “Jika engkau mengalahkan aku?” Dia menjawab, “Maka ikutlah aku!” Imam Malik bertanya lagi, “Kalau aku mengalahkanmu?” Dia menjawab, “Aku mengikutimu?” Imam Malik bertanya, “Jika datang orang ketiga lalu kita ajak bicara dan kita dikalahkannya?” Dia berkata, “Ya kita ikuti dia.”

Imam Malik rahimahullah berkata:
“Hai Abdullah, Allah azza wa jalla telah mengutus Muhammad dengan satu agama, aku lihat engkau banyak berpindah-pindah (agama), padahal Umar ibnu Abdil Aziz telah berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka dia akan banyak berpindah-pindah.”

Imam Malik rahimahullah berkata:
”Jidal dalam agama itu bukan apa-apa (tidak ada nilainya sama sekali).”

Imam Malik rahimahullah berkata:
“Berbantahan dan perdebatan dalam ilmu itu menghilangkan cahaya ilmu dari hari seorang hamba.”

Imam Malik rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya jidal itu mengeraskan hati dan menimbulkan kebencian.”

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki ilmu sunnah, apakah ia boleh berdebat membela sunnah? Dia menjawab,”Tidak, tetapi cukup memberitahukan tentang sunnah.”

(Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Qadhi Iyadh: 1/51; Siyarul A’lam: 8/106; al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, hal.62-65)

16. Muhammad ibn Idris as-Syafi’I rahimahullah
Imam as-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Berbantahan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.” [Thobaqat Syafiiyyah 1/7, Siyar, 10/28]

17. Ahmad bin Hambal rahimahullah
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang, “Saya ada di sebuah majlis lalu disebutlah didalamnya sunnah yang tidak diketahui kecuali oleh saya, apakah saya mengatakan?”
Dia menjawab:“Beritakanlah sunnah itu, dan janganlah mendebat kerananya!”
Orang itu mengulangi pertanyaannya, maka Imam Ahmad rahimahullah berkata:
“Aku tidak melihatmu kecuali seorang yang mendebat.”

[al-Adab as-Syar’iyyah: 1/358, dalam bab menyebar sunnah dengan  ucapan dan perbuatan tanpa perdebatan dan kekerasan; al-Bashirah fid-Da’wah Ilallah: 57]

18. Shafwan ibn Muhammad al-Mazini rahimahullah
Saat Shafwan rahimahullah melihat para pemuda berdebat di Masjid Jami’ maka ia mengibaskan tangannya sambil berkata :
“Kalian adalah jarab, kalian adalah jarab (sejenis penyakit kulit).” 
[Ibnu Battah: 597]

Dahulu dikatakan:
“Janganlah engkau mendebat orang yang santun dan orang yang bodoh; orang yang santun mengalahkanmu, sedang orang yang bodoh menyakitimu.” [Al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

Penyunting : Lafaz di atas adalah seakan menyerupai lafaz Abdul Wahab bin Munabbih rhm pada no14.

“Ya Allah jauhkanlah kami dari jidal, dan anugerahkan pada kami istiqamah. Janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah engkau memberi hidayah pada kami.”

Tajuk asal : Salaf Shalih Memperingatkan BAHAYA DEBAT,  Agus Hasan Bashori, Lc., M.ag. Hafizhahullah. (( Majalah Qiblati -Indonesia- Edisi 03 Tahun IV (12-1429/12-2008) hal.16-20 ))

Dinukil daripada :: aL QIYAMAH Muslim Weblog

Sabtu, 15 Oktober 2011

ISLAM BUKAN AGAMA RACIST : ISLAM ADALAH KEADILAN SEJAGAT DAN MELARANG PERBALAHAN / PEPERANGAN KERANA BANGSA.





Islam adalah agama Allah Yang Maha Mengasihani yang diutuskan melalui Rasulullah untuk menyampaikan rahmat (kasih sayang) ke seluruh alam. Keadilan dalam Islam adalah tidak memandang kepada mana-mana bangsa hatta agama sekalipun. Jika hal ini tidak diteliti maka kezaliman pasti akan berlaku.

Sesungguhnya hukum Allah SWT adalah hukum daripada Tuhan yang Mencipta manusia dengan segala kemajmukannya. Majmuknya manusia di atas muka bumi ini bukan berlaku secara secara silap mata atau magik sihir, tetapi ia adalah hasil ciptaan Allah Tuhan yang Maha Berkuasa lagi Maha Bijak. Sehingga hari ini, tiada siapa yang berani menafikan fakta bahawa Allah yang mencipta manusia samada manusia itu berkulit putih atau berkulit hitam. Samada manusia itu berbangsa Arab atau bukan Arab seperti Melayu, Cina dan India. Lihatlah pengakuan Allah SWT di dalam al Quran al Kariim.

Firman Allah :

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha mendalam pengetahuannya (akan keadaan dan amalan kamu).
 
(Al Hujurat :13)

Lihat di dalam ayat di atas, Allah memanggil “Wahai manusia!”. Panggilan yang sangat adil merangkumi setiap bangsa dan puak. Bukan panggilan berbentuk perkauman dan fanatik keturunan.
Jika dilihat pada penafsiran yang dibuat oleh Sayyid Qutub di dalam kitab tafsir beliau, dalam menafsirkan firman Allah di atas pula, maka kita akan menemui kehebatan Allah Yang Maha Pencipta. Di mana beliau menyebut :

“Penciptaan manusia berbagai bangsa dan seumpamanya bukan untuk berperang dan bergaduh, tetapi untuk berkenalan dan bermuafakat. Perbezaan bahasa, warna kulit, tabiat, sikap, kelebihan dan kemampuan adalah kepelbagaian yang bukan bertujuan untuk perbalahan dan perkelahian. Warna kulit, jenis bangsa, bahasa, negara segalanya itu tiada baginya nilai dalam pertimbangan Allah. Sebaliknya, di sana hanya satu timbangan yang menentukan nilai dan kelebihan manusia, iaitu :
Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu”.

Dalam hal ini kita tidak boleh melupakan beberapa hadith yang menjadi dalil, di antaranya ialah :

1. Sabda Nabi SAW :
يا أيها الناس ألا إن ربكم واحد وإن أباكم واحد كلكم لآدم وآدم من تراب
Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kamu itu satu dan bapa kamu juga satu. Kamu berasal dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah.
[HR Ahmad]

2. Sabda Nabi SAW :
Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kamu sama, bapa kamu sama. Ketahuilah! Tiada kelebihan orang Arab ke atas ‘ajam, atau ‘ajam ke atas Arab, atau yang berkulit merah ke atas yang berkulit hitam, atau yang berkulit hitam ke atas yang berkulit merah melainkan ketakwaan.
[HR  Ahmad dan al Baihaqi]

Jelas sekali bahawa hikmah ciptaan manusia yang mempunyai kepelbagaian adalah penuh hikmah yang bermaksud untuk diambil manfaat supaya ummat manusia mencapai nikmat kesempurnaan hidup, yang mana kesempurnaan tidak lengkap tanpa mendapat pengkitirafan dari Allah dengan pangkat kemuliaan yang hanya diberi kepada orang-orang yang bertakwa.

Pada zaman jahiliah, perkauman dan kabilah adalah menjadi dasar atau pusat wala’ dan ikutan. Mereka mengikuti kaum dan kabilah masing-masing tanpa mengambilkira samaada dalam perkara benar atau salah. Slogan mereka pada waktu itu adalah “sokonglah saudaramu dalam melakukan kezaliman atau ketika sedang dizalimi”.

Rasulullah SAW dengan berhikmah telah menggunakan istilah yang sama dengan tujuan memberi kefahaman baru yang selari dengan nilai-nilai Islam.

Baginda bersabda, mafhumnya : bantulah saudaramu dalam kezaliman dan ketika dizalimi.
Para sahabat bertanya : wahai Rasulullah, kita diwajibkan untuk menolong mereka yang dizalimi, lantas bagaimanakah pula menolong mereka yang melakukan kezaliman?
Jawab baginda : cegahlah dirinya dari terus melakukan kezaliman tersebut, begitulah cara menolongnya.

Begitu juga dalam banyak hadith, Rasulullah SAW mengingatkan dan mengecam keras ummat baginda untuk menjauhkan sikap asabiah dan perkauman, atau melakukan peperangan kerana dasar asabiah.

Berdasarkan kupasan dan dalil-dalil di atas rasanya memadailah untuk memahami bahawa sesungguhnya Islam bukanlah agama racist. Malah melarang keras perbalahan dan peperangan kerana sentimen perkauman kerana Islam adalah agama yang paling sesuai untuk masyarakat majmuk dan menjaga keamanan dunia sejagat. 

Wallahu a'lam


Ustazthrash Mujahid.